
|| Title : Fallin In Love With a Friend || Author
: K.EL GD ||
Main Cast :, Baro [ B1A4 ], Bomi [ A-pink ], Hyeri [G D ] ||
Leight : One Shoot ||
Genre : Romantic ||
*perhatikan tulisan yang miring [
ungkapan dalam hati all cast ]
Summer: Masih adakah waktu untukku
mengatakan bahwa aku tidak hanya sekedar membutuhkanmu, tapi aku juga
mencintaimu.
***
Bomi
tergesa gesa berangkat dia langsung mengambil roti tawar yang telah di siapkan
Eomma.
“Eomma.
Bomi berangkat yah.. dah..” teriak bomi sambil memakai sepatu.
“sayang,
apa kamu tak sarapan dulu?” Eomma membalas teriak dai dapur.
“ngga
usah. Ma udah telat nih… aku berangkat yah, dah!!.”
Brakk,
bomi membanting pintu tak sengaja, “Ups, mianhae eomma,” bomi keluar rumah dan
mendapati baro didepan rumahnya. Karena rumah baro tepat berada didepan rumah
bomi.
“bomi-ya!
Palli! Mengapa kau terlambat 1 menit?”
“mianhae
baro-ya! Mengapa kau sangat perhitungan sekali?”
“kau tau
kata pepatahkan bahwa waktu itu adalah uang.”
“aisshh,
sudahlah jangan bersastrawan di depanku. Mana helmku?”
“ini.”
Wusshhhhh...
grengggggg… grengggggg. Baro pun menggas motornya.
***
“haa…
syukurlah kita belum terlambat.” Kata baro lega.
Bomi
cengengesan. “Heeheheheh mianhaeyo. Baro-ya! Ternyata jadwalnya masih satu jam
lagi.”
“aigoo!
Bomi-ya mengapa kau pabo sekali!” Baro menjitak kepala Bomi. Bomi hanya
meringis kesakitan.
“awww.!
Sakit tau! Hehheheh”
“dasar
yeoja pabo.! mengapa bisa begitu?”
“mianhae,
aku salah melihat jadwal tadi.” Bomi menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“geureh
kalo begitu aku mau kekampusku dulu.”
“yah,
secepat itu memangnya kau harus meninggalkanku.”
“hahahah,
bomi-ya kau ini lucu sekali. Bukannya setiap hari kita melakukan ritual ini?”
“emm,
yah…” bomi gugup.
“atau
kau sedang merindukanku saat ini?” Tanya baro menggoda, sehingga membuat rona
merah dipipi bomi terlihat.
“aishh
ani, pede sekali kau! Ya sudah pergi
sana! Palli pali!”
“hahahah
ne, ne aku akan pergi.” Baro langsung menstater motornya.
Bremm…
breemmmm…
“geureh,
aku akan berangkat dulu ne. bomi-ya kau jangan merindukanku terus.”
“tidak
akan. Huft.”
“ne..ne..
oh ya, nanti jika kau sudah pulang telfon aku ya, aku akan menjemputmu..bye
bye..” baro melajukan motornya
“bye..”
Bomi melambaikan tangannya, “aku memang selalu merindukanmu baro-ya.” Tanpa
sadar bomi mengatakn hal itu, dan dia tersenyum sendiri karena merasa aneh
dengan perkataannya.
***
Seperti
biasanya Baro dan bomi datang ke sebuah tempat yang diberi nama “BABO Castile”
dan seperti biasanya mereka memainkan jungkat jungkit sambil bercerita, entah
tentang masalah dikampus, masalah keluarga atau masalah lainnya. Tapi dari dulu
keduanya sama sekali belum bercerita tentang kekasih mereka masing-masing.
“bomi-ya.
Apa kau sudah tau tentang Negara kita?”
“memangnya
Negara kita ini kenapa?”
“banyak
orangkan?”
“ah! Kau
ini bodoh atau hanya pura-pura. Memanglah di Negara kita ini banyak orang.”
“tapi
apakah kau tau? Aku selalu merasa di Negara hanya ada kau dan aku.” Perkataan baro cukup membuat bomi terkejut.
“mwo?
Memangnya kau anggap apa mereka semua?”
“entahlah
tapi memang itu yang kurasakan bomi-ya. Apa kau merasakan hal yang sama
sepertiku?”
Aish mengapa baro membuat
jantungku berdegup kencang? Apa yang dia katakan sehingga membuatku mati gaya
seperti ini?
“ya!!
Bomi-ya. Kau mendengarkan aku tidak?”
Disaat
mereka sedang bercerita tiba tiba ada seorang yeoja yang memanggil baro.
“Baro-ya!!”
“aih?
Siapa dia? Apa kau mengenalnya?” Tanya bomi curiga.
“Em,,
nanti kujelaskan.” Baro langsung berdiri, dan ia lupa kalo dirinya sedang
bermain jungkat jungkit bersama bomi.
*brakk
“aww.
Napeun!.” bomi terkejut.
“mianhae.”
“anyeong..”
sapa yeoja itu ramah.
Bomi
langsung beridiri disamping baro sambil menundukan kepala, “anyeong..”
“Hyeri
imnida. “ yeoja itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya. Bomi pun
membalas uluran tangan hyeri. “Bomi imnida.”
“hyeri-ah
jam berapa kau menuju kesini?”
“hah,
baru tadi oppa, dan ahjumma menyuruhku untuk menjemputmu.”
“mengapa
kau mau? Apa kau tak lelah karena perjalananmu menuju kemari?”
“ani..
karena aku sangat merindukanmu oppa.” Tiba tiba hyeri memeluk baro. Baro pun
trkejut dan langsung melihat kearah bomi. Bomi hanya tersenyum.
Aigo beraninya dia memeluk baro?
Siapa yoeja ini, aishh mengapa aku marah jika hyeri memeluk baro. Memangnya aku
dan baro berpacaran?
“oppa,
ayo kita pulang.”
“em ne,
bomi-ya aku mau pulang dulu.” Bomi masih melamun. “bomi-ya!” bomi terkejut
karena teriakan baro.
“em, ne
ada apa?”
“aish
kau ini. Aku mau pulang dulu dengan hyeri apa kau mau ikut?.”
“ne,
silahkan saja. Aku nanti bisa pulang sendiri.”
“gwaenchanayo?”
baro khawatir dengan bomi.
“ne. aku
akan baik-baik saja. Pulanglah.” Dengan senyuman bomi melepas baro pulang.
“gomawo,
kami pulang dulu ya” kata hyeri ceria.
“bye”
baro melambaikan tangannya. Bomi pun membalas lambaian tangan baro dan hyeri.
Seketika baro langsung hilang dari pandangan bomi. “baro-ya kajjima!” tanpa
sadar bomi mengatakan itu.
Mengapa rasanya aku tak rela jika
ada yeoja lain yang dekat dengan baro? Dan aku tak ingin kau pergi baro-ya.
“aish
pabo!!” tiba tiba bomi memukul mukul kepalanya sendiri. “mengapa kau
memikirkannya? Apa dia itu kekasihmu dia hanya sahabatmu!” bomi kesal pada
dirinya sendiri. Akhirnya bomi memutuskan untuk pulang.
***
Diruang
makan, keluarga Cha ( Keluarga Baro )
dengan keluarga Kim ( Keluarga Hyeri) sedang membicarakan pengalaman mereka.
“hah,
baro kau tak keberatan kan jika hyeri
ini masuk di universitasmu.” Kata eomma baro tiba tiba dan itu membuat baro
terkejut.
“iya
baro-ya! Kami sudah sepakat untuk memasukan hyeri ke universitasmu.”
“mwo?
Eomma tidak sedang bercandakan?”
“iya
sayang, dan lagi pula hyeri sudah diterima kok, dia sudah mendaftar beberapa
bulan yang lalu.”
“tapii.
Eomma..”
“waeyo
sayang? Bagaimana dengan bomi?”
“itu
urusanmu, bicara baik baik dengan bomi sayang.”
“ya!
Oppa asik aku sekampus denganmu,” kata hyeri senang. “nanti kita pasti
berangkat bersama,”
Baro hanya tersenyum. Bomi-ya
bagaimana ini? Aku aku bingung pa yang harus kukatakan padamu nanti.
Selesai
makan hyeri mengajak baro untuk duduk diteras kamar baro yang terletak dilantai
2. Dan saat itu bomi juga ada di teras kamarnya yang berada dilantai 2 juga,
jadi kamar baro dan bomi saling berhadapan.
Baro membuka pintu dan melihat bomi diseberang.
Bomi-ya entah mengapa aku sangat
merindukanmu.
Baro-ya apa kau mengerti
perasaanku? Aku sangat merindukanmu
“oppa.”
Hyeri membuyarkan lamunan baro, dan ketika bomi melihat hyeri bersama baro bomi
langsung masuk dan menutup pintunya.
“oh, ne
oppa sedang apa?”
“ah
tidak aku hanya memandang langit.”
“memangnya
dilangit ada apa?”
“ada
bintang bulan.” Kata baro garing.
“ah
oppa, ini aku bawakan air.” Hyeri menyodorkan satu gelas air.
“gomawo.”
Kata baro singkat.
“oppa,
siapa yeoja yang tadi bersamamu?”
“dia
sahabatku. Wae?”
“ani.”
Oppa aku sangat mencintaimu, dan
aku tak ingin ada satupun yeoja yang dekat denganmu, tapi dia sahabtmu,
bagaimna mungkin aku bisa memisahkan kalian.
***
Seperti
biasa bomi menunggu baro keluar dari rumahnya. 10 menit pun berlalu.
“aish
kau kemana sih?” karena bomi sudah tak sabar menunggu baro, akhrinya bomi masuk
kerumah baro.
“permisi.”
Bomi menekan bel rumah baro.
*krek
suara pintu diuka ole eomma baro.
“anyeong
ahjuma. Apa baro ada?”
“ha,
baro kan sudah berangkat bersama hyeri.”
“sudah
berangkat bersama hyeri.”
“ne..
apa kau belum diberitahu oleh baro? Sekarang baro dan hyeri satu universitas,
jadi baro akan berangkat bersama hyeri setiap hari.”
“oh, ne
eomma gomawo.” Dengan perasaan yang hancur bomi keluar dari rumah baro dan ia memutuskan untuk jalan
kaki untuk berangkat kekampusnya.
Dalam
perjalan menuju kampus bomi terus bertanya Tanya.
Baro-ya mengapa kau tega biarkan
aku seperti ini demi yeoja itu? Apa kau sudah lupa dengan sahabatmu ini? Hah ?
Tak terasa tiba tiba bomi meneteskan airmatanya.
Dikampus
baro terus memikirkan keadaan bomi.
Bomi-ya mianhaeyo. Aku tak
bermaksud meninggalkanmu. Tapi keadaan ini sangat mendadak, jeongmal mianhaeyo
bomi-ya.
Baro
mengirimkan peesan pada bomi untuk meminta maaf karena pagi ini dan sorenya ia
tak dapat menjemput bomi, tapi tak ada satupun pesan yang dibalas bomi dan
keika baro menelefon bomi, tapi bomi tak menjawabnya. Baro semakin gelisah.
Baro mencoba mengubungi bomi lagi
Bomi-ya gwaenchanyayo? Kau jangan
membuatku khawatir. Kumohon angkatlah telefonmu
“oppa?
Gwaenchanhayo? Kau sedang menelefon siapa sih?”
“aku
baik saja, dan aku sednag menelefon temanku tapi dia tak mengangkatnya.”
“maksudmu
bomi?” baro hanya mengangguk.
***
Baro
melihat bomi menangis di Babo Castil,
“bomi-ya
gwaenchanayo? Hey mengapa kau menangis?” bomi tak menghiraukan kedatangan baro.
“bomi-ya
ceritalah padaku.”
“Napeun!!!”
“waeyo?”
“hem!!”
bomi tersenyum sinis sambil menahan airmatanya.
“mianhaeyo
bomi-ya jeongmal mianhae.”
“ne aku
mengerti kok, kau lebih sayang pada hyeri dari pada aku.
“mian
sebelumnya aku belum bicara bahwa aku dan hyeri satu kampus.”
“sudahlah
lupakan saja, aku mengerti kok,”
“bomi-ya
aku mau mengatakn sesuatu padamu.”
“katakan
saja.”
“aku mau
memberitahumu siapa hyeri.”
“… “
“hyeri
itu tunanganku.”
“apa?
Hyeri.? Hyeri itu hyeri itu tunangan, tunanganmu?” dengan tak percaya bomi
langsung berdiri dan berjalan untuk pulang.
“bomi-ya
kau mau kemana?”
Bomi
menahan tangis. “aku… mau pulang.”
“bomi-ya
tunggu.” Baro menarik tangan bomi.
“lepaskan
tanganku baro-ya.”
“tidak
aku tak akan melepaskan tangnmu. Kumohon jangan pergi.” Tiba tiba baro memeluk
bomi.
“lepaskan
aku, sekarang kau bukan milikku seutuhnya,”
“tapi
kau tetap sahabat terbaikku,”
“ne, aku
sahabat terbaikmu. Gomawo baro-ya. Kumohon lepaskan aku.” Bomi menangis di
pundak baro dan memaksa baro untuk melepaskan pelukannya.
Gomawo baro-ya selama ini kau
yang selalu mengisi hari hariku, mungkin jika aku mengetahui hal inii aku tak
akan membuang buang waktuku saat bersammamu, namun semua telah terlambat, sekarang
kau memiliki pendamping yang selalu menemanimu kapan saja, yah hyeri . sekarang
kau tak perlu membutuhkanku lagi.
Air mata bomi terus mengalir dan tak bisa di tahan, betapa hancurnya hati bomi
saat menetahui bahwa hyeri itu tunangan baro, seperti ada pisau tajam yang
menusuk nusuk hatinya
***
Sudah
hampir 1 bulan baro tak bermain dengan bomi, dan itu membuat bomi merasa
kehilangan baro,
“baro-ya!
Apa kau tau? Aku sangat merindukan kehadiranmu. Aku merindukan tawamu dan aku
merindukan kau ada disampingku.” Perlahan air mata bomi jatuh membasahi
pipinya, bomi melihat keluar kamar, dan ia mendapati baro sedang melihat kearah
kamar bomi
“Bomi-ya!”
baro memanggil bomi dari seberang. Bomi hanya tersenyum. “keluarlah temani
aku.”
“ne..
mengapa kau belum tidur?”
“aku tak
bisa tidur, dan rasanya aku ingin sekali memandang langit.”
“oh,”
“lalu
mengapa kau sendiri belum tidur?”
“aku..
aku .. aku juga tak bisa tidur.”
“wah
kita sehati bomi-ya! Sudah lama sekali kita tak bertemu.”
“belum
lama kok, 1 bulan aja belum.”
“aish
kau ini tega sekali! Apa kau tak merindukanku?” Teriak baro.
“hahah.
Aku .. buat apa aku merindukanmu.”
“dasar!
Mengapa kau tega sekali mengatakan itu padaku! Apa kau tak mengerti bahwa aku
sangat merindukanmu bomi-ya!”
“merindukanku?”
sebenarnya aku juga sangat merindukanmu
Baro-ya tapi aku tak mungkin mengatakn hal itu. “untuk apa kau
merindukanku? Bukannya kau sudah memiliki hyeri. Kurasa kau tak pantas
merindukanku baro-ya!” bomi tersenyum miris. Baro hanya terdiam baro mengerti
perasaan bomi.
“bomi-ya!
Lihatlah ada bintang jatuh.” Baro
menunjuk bintang yang sedang jatuh yang letaknya tepat berada ditengah tengah
antara rumah baro dan bomi.
“kajja
minta 1 permintaan.” Baro langsung menutup matanya, dan bomi mengikuti apa yang
baro lakukan.
Tuhan, aku hanya ingin satu
permintaan padamu, kumohon satukanlah kembali aku dengan bomi. Jujur aku merasa
sangat kehilangannya, dan kurasa aku mencintainya, kumohon tuhan beritahu
padanya bahwa aku sangat menginginkan dia sebagai pendamping hidupku kelak.
Tuhan jika memang ini jalanmu
untuk memisahkan aku dengan baro, aku mencoba untuk bisa menerima semuanya,
tapi tuhan jika kau menuruhku untuk melupakan baro dan membuang perasaan ini
aku sungguh tak sanggup. Aku bahagia jika melihat baro tersenyum meskipun bukan
aku yang mengukir senyum indah diwajah baro. Jadi kumohon tuhan bantu aku untuk
menjaga perasaanku ini.
Baro dan
bomi membuka matanya bersamaan.
“bomi-ya
apa yang kau minta?”
“ahh
aku, hanya meminta perlindungan saja. Kau sendiri?”
“aku
hanya ingin meminta keadilan.”
“keadilan?”
“yah,
keadilan tentang perasaanku.”
“ohh…
geureh baro-ya! Aku mau tidur ne.”
“ne
tidurlah bomi-ya dan mimpi indahlah.”
“ne kau
juga, jaljjayeo baro-ya.” Baro mengangguk dan tersenyum. Bomi pun masuk
kedalam.
Aku percaya kau juga mempunyai
perasaan yang sama denganku bomi-ya.
***
Satu
minggu lagi acara pertunangan antara baro dan hyeri akan dilaksanakan. Bomi semakin
terpukul karena hyeri meminta bomi untuk
mengatur semua acara mereka, dengan alasan karena bomi adalah sahabat baik
baro. Dan hari ini hyeri mengajak bomi untuk membeli cincin pertunangannya
dengan baro dan memilih milih gaun yang akan dipakenya diacara pertunangan
nanti.
Mobil
baro dan hyeri datang ke kampus bomi untuk menjemput bomi
“bomi-ya
ayo antarkan aku dengan oppa membeli cincin.”
“ha?”
bomi terkejut atas ajakan hyeri.
“kau
sudah tak ada kelas kan?”
“em,
iya. Tapi.”
“sudahlah
ayo ikutlah dengan kami, jeball.”
“em
geureh aku akan ikut dengan kalian. Akhirnya bomi membuka pintu mobil.
Hati
bomi sngat sakit karena melihat tingkah hyeri yang dilakukan pada baro,sahabat
kecilnya yang mampu membuat dirinya merasakan apa itu cinta.
Tuhan kumohon kuatkanlah hatiku
menghadapi semua ini, aku senang melihat baro tersenyum, kumohon jangan
turunkan airmata ini,
mata bomi mulai berkaca-kaca. Baro yang mengetahui hal itu hanya diam saja,
baro mengerti perasaan bomi,
Mianhaeyo bomi-ya aku sebenarnya
tak mau melakukan sandiwara ini. Tapi aku yakin kau kuat menghadapinya, karena
kau bomi kecilku yang selalu kuat menghadapi sesuatu, meskipun ini membuat dirimu
terluka, kumohon jangan menangis, tahan lah airmatamu itu, karena saat ini aku
tak mampu menghapusnya.
Baro
sesekali melihat bomi melalui kaca. Dan
baro melihat bomi hampir menangis.
***
“oppa
kau suka yang mana?” hyei menunjuk beberapa model cincin,
“terserah
kau saja,”
“hah
bomi-ya! Apa menurutmu yang ini bagus?”
“ah ne
ini sangat bagus.”
“oppa
apa menurutmu ini bagus.”
“ne itu
bagus,”
“geureh
kita ambil yang ini ya.”
“….”
Baro terus memperhatikan bomi, ada sedikit kekecewaan yang tergambar
diwajahnya.
Setelah
selesai memilih cincin kini mereka harus memilih gaun untuk baro dan hyeri.
Selesai memilih gaun hyeri mengaja bomi untuk makan, sekaligus mengucapkan
terimakasuh karena bomi mau menemaninya hari ini.
“bomi-ya
gomawo ne, hari ini kau telah menemaniku dan oppa.”
“eh, ne
cheonma..” bomi hanya tersenyum tipis.
“oh
iya.., ceritakan dong pengalam menarik kalian dulu sewaktu kecil.”
“hahah
tidak perlu diceritakan kurasa kami sudah melupakannya” kata bomi sambil
sesekali melihat kearah baro.
Akhirnya
mereka memutuskan untung mendengar cerita hyeri dengan baro sehingga mereka
bisa dijodohkan. Dan itu membuat hati bomi semakin rapuh.
***
Bomi
datang ke Babo Castile, malam ini. Hati semakin terasa sakit karena 2 hari lagi
baro aka bertunangan dengan hyeri.
“baro-ya
aku akui aku tidak hanya membutuhkan
kehadiranmu disampingku, tapi aku juga membutuhkan cintamu. Aku baru sadar jika
aku benar-benar mencintaimu.” Bomi meneteskan airmatanya,
“mungkin
aku terlalu munafik untuk mengatakan perasaan ini padamu, tapi aku benar benar
tak bisa menahan semua ini, hiks.. jika kau bertanya apakah aku kehilanganmu,
atau apakah aku merindukanmu, atau bahkan kau betanya apakah aku mencintaimu,
aku akan menjawab IYA.!”
Bomi
menangi s tanpa henti, “Kumohon hentikanlah waktu, aku tak ingin acara
pertunangan itu dilaksanakan. Arghhhhhh!!” Bomi meringkukan dirinya dibawah
pohon, air matanya terus mengalir sehingga membuat mata bomi terlihat bengkak.
Tap…
Tap.. Tap…
Bomi
mendengar suara orang berjalan yang mendekat kearahnya, bomi takut tak berani
melihat siapa yang datang, tiba tiba orang itu memeluk bomi, bomi terkejut dia
melihat wajah baro tepat berada diatas kepala bomi.
“baro-ya!”
“ne
bomi-ya sahabat ku, ini aku sahabatmu.”
“hem,
untuk apa kau kesini? Bukannya kau harus siap siap untuk acara pert…” perkataan
bomi di hentikan oleh baro.
“sssttt
sudahlah, lupakan saja acara pertunangn itu. Dan saat ini aku hanya ingin
bersamamu bomi-ya! Aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku hanya
bersamamu.”
“tapi
hyeri adalah tunanganmu. Untuk apa kau memikirkanku?”
“iya,
hyeri memang tunangan aku, tapi dia bukan yeoja yang aku cinta. Jujur bomi-ya
kau merasakan apa yang kurasakan? Katakanlah kau juga merasa kehilangan ku dan
katakanlah jika kau mencintaiku. Katakanlah bomi-ya!” baro menatap bomi tajam,
matanya sudah berkaca-kaca, dan airmatanya mulai menetes.
“tidak,
kau salah baro-ya, aku sama sekali tak merasa bahwa aku kehilanganmu, dan
mencintaimu? Aku tak merasakan perasaan itu.” Bomi berusaha berbohong menutupi
perasaannya, dan ia menahan tangis.
“hah?
Kau bilang kau tak kehilanganku dan kau tak mencintaiku? Omong kosong, untuk
apa kau berbohong padaku? Aku tak bisa kau bohongi bomi-ya. Aku ini sahabatmu
aku tau semua tentangmu.”
Bomi
langsung berdir di ikuti baro, “iya. Aku memang kehilanganmu baro-ya, dan aku
juga mencintaimu, tapi aku tak pantas memilikimu, aku ini bukan jodohmu, aku
ini hanya sahabatmu.!!”
“kau
memang sahabatku, tapi apakah aku salah jika aku menjadikanmu sebagai yeoja
yang kucinta, apa aku salah jika aku mencintai sahabatku sendiri.”
“kau
sangat salah baro-ya, kau salah jika kau
mencintaiku, aku ini bukan pasanganmu, aku hanya sekedar sahabatmu, kau berhak
dimilik yeoja lain selain aku.!”
“tapi
aku hanya ingin memilikimu, dan aku yakin kau ini pasangan hidupku!”
“enggak!
Aku bukan pasangan hidupmu, pasanganmu adalah hyeri! Pulanglah baro-ya,
temuilah hyeri. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.”
“tapi
aku tidak bisa bahagia. Aku ingin bersamamu, untuk apa aku melangsungkan
pertunangan ini jika aku tak mencintai hyeri? Kumohon percayalah padaku, bahkan
jika kau ingin aku untuk memmbatalkan pertunangan ini, aku akan lakukan.”
“andwae!!
Pertunanganmu dengan hyeri tak boleh dibatalkan. Aku yakin hyeri yeoja yang
baik untukmu.”
“tidak!
Aku akan tetap membatalkan pertunangan ini, kau ini pasanganku bomi-ya!”
“jangan.!!
Baiklah jika kau memaksa! Kita mengadakan taruhan saja,”
“taruhan?”
“iya
taruhan, jika malam ini ada bintang jatuh, berarti itu meanandakan bahwa kau
dan aku memang ditakdirkan untuk bersama dan kau berhak membatalkan pertunangan
itu , tapi jika malam ini tak ada satupun bintang yang jatuh biarlah aku
merelakanmu untuk bertunangan dengan hyeri. Bagaimana? Apa kau siap?”
“tapi
ini tak adil.”
“kita
serahkan saja pada tuhan, kita tunggu sampai fajar tiba.”
Akhirnya
baro dan bomi, tiduran sambil memandang langit, menunggu bintang jatuh.
“apa kau
yakin bomi-ya?” baro meneteskan air
mata, begitu juga bomi.
“aku
akan siap menrima semua keputusan ini,”
Baro melihat jam tangan begitu juga bomi, hari
sudah mulai fajar, tapi tak ada satupun bintang yang jatuh, itu tandanya baro
tetap melangsungkan pertunangannya bersama hyeri. Baro menangis, sebenarnya ia
tak mau menerima kenyataan.
“baro-ya
sekarang sudah jelas, bintang tak ada satupu yang jatuh, pergilah temui hyeri.”
Kata bomi sambil membelakangi baro, dan tak ingin melihat baro, tapi tiba tiba
baro memeluk bomi, sambil menangis.
“bomi-ya
aku akan tetap mencintaimu,… aku aku tak ingin seperti ini,” air mata baro
mengalir deras.
“sudahlah
baro-ya, aku ini tetap sahabatmi, jika kau membutuhkanku datanglah padaku. Aku
akan selalu ada untukmu.” Tangis bomi membasahi baju baro. Bomi melepaskan
pelukan baro,
“biarkan
BABO CASTILE ini menjadi saksi cinta kita berdua, di BABO CASTILE ini banyak
mengukir kenangan tentang kita, baro-ya. Jika suatu saat kau merindukanku,
datanglah kesini, karena jiwaku akan selalu ada di Babo Castile ini.”
“ne,
begitupun kau bomi-ya. Aku akan selalu
menjaga Babo Castile ini, karena disinilah kita bisa merasakan jatuh cinta.”
“hem ne.
pulanglah baro-ya! Temuilah hyeri peluklah dia dan katakana bahwa kau sangat
mencintainya.” Bomi mengusap air matanya dan meninggalkan baro.
“bomi-ya!”
baro berteriak. “ Saranghae”
Bomi
hanya membalas dengan senyuman dan menengok ke arah baro,
“nado
saranghae baro-ya” kata bomi lirih sambil berjalan meninggalkan baro.
***
Hari ini
hari pertunangan baro dan hyeri, bomi melihat betapa sibuknya orang-orang yang
ada dirumah baro. Acaranya akan diadakan nanti malam.
“baro-ya
selamat.” Bomi tersenyum miris dan matanya sudah berkaca-kaca. Baro yang keluar
dari rumahnya bersama hyeri melihat keberadaan bomi,
“oppa,
gwaenchanayo?” hyeri melihat kearah kamar bomi.
“oh ne.”
“kajja
oppa.” Hyeri menggandeng baro.
***
Malam
harinya bomi bersiap datang keacara pertunangan baro, di depan bomi melihat
baro dan hyeri sudah di rias dan baro terlihat begitu tampan,
Baro-ya aku yakin ini keputusan
yang tepat.
Baro
mencari cari keberadaan bomi,
Bomi-ya apa kau tak ingin datang melihat ini. Baro merasa khawatir.
“oppa,
apa kau mencari bomi?” Tanya hyeri tiba-tiba.
“ah ne,
aku mencarinya,”
“jangan
khawatir aku yakin bomi pasti akan datang. Nah lihatlah itu oppa, itu bomi
sudah ada disana.”
Hyeri
menunjuk kearah bomi, baro hanya tersenyum tipis, dan kini pandangannya hanya
tertuju pada bomi,
Acara
tukar cincin pun sudah dimulai, tiba tiba disaat hyeri akan memasukan cincinnya
kejari baro geraknya terhenti, sesekali ia melihat kearah bomi dan baro.
“waeyo
sayang?” Tanya eomma baro, semua tamu terheran atas tindakan hyeri.
“ha! Apa
yang yeoja itu lakukan?” Tanya salah seorang tamu undangan.
Hyeri
jalan menuju dimana bomi berdiri, semua orang terkejut karena tindakan hyeri
ini, kedua orang tua hyeri dan baro bingung. Apa yang di lakukan oleh hyeri
pada yeoja itu? Pertanyaan itu kini terbesit didalam hati masing masing tamu.
“bomi-ya!”
hyeri memulai pembicaraan matanya mulai berkaca-kaca. “aku akan memberikan
cincin ini untukmu, sekarang masukanlah cincin ini ke jari oppa.” Hyeri
menyerahkan cincinya ke bomi, bomi bingung dengan maksud hyeri, baro hanya
terdiam melihat yeoja yang sangat dia cintai dan yeoja yang akan menjadi calon
istrinya nanti.
“apa
maksud mu hyeri-ah?”
“kumohon
masukanlah, jangan kau menyimpan perasaanmu pada oppa lebih dalam,”
“tapi
ini acaramu, aku tak mau melakukannya.”
“tenanglah
bomi-ya aku sudah tau semua,”
“bagaimana
kau bisa tau?” kata bomi penasaran.
“kemarin,
Saat aku membereskan kamar oppa, aku melihat foto oppa bersama mu, dan awalnya
aku anggap kalian hanya sahabat yang saling menyanyangi, dan kalian tak
mempunyai perasaan satu sama lain, tapi disaat aku membuka bagian belakang
salah satu foto itu, aku melihat puisi yang oppa tulis dan itu untukmu.
Dear my lovely
friend Bomi.
Dalam gelapnya
malam aku mencoba mencarimu, apa kau tau aku terjebak oleh gumpalan awan hitam
yang mencoba membawaku jauh darimu.
Dalam gelapnya
malam yang dihiasi beribu bintang, aku mencoba melihatmu namun tak kutemukan
sosok dirimu,
Benarkah kau
meninggalkanku? Dan meninggalkan cintamu dalam hatiku?
Aku hanya ingin
mempersembahkan cintaku padamu,
Tahukah engkau? Aku
sangat kehilanganmu,
Kehilangan sosok
seorang sahabat sekaligus pengisi hatiku,
Aku memang salah
karena aku baru menyadarinya jika aku mencintaimu,
Meskipun aku sudah
bersama yeoja lain,
Aku ingin kau
mengetahui satu hal saja,
Bahwa aku tak bisa
membuang rasa cintaku ini sampai kapanpun.
Saranghae bomi-ya
Jeongmal saranghae.
“
sekarang kau tak perlu lagi bohong pada perasaanmu sendiri, aku tau ini sangat
menyakitkan, tapi untuk apa aku bersama
dengan seorang namja yang sama sekali tak mencintaiku, tapi ia mencintai orang
lain”
Hyeri
meneteskan air matanya, dan baro berjalan mnuju mereka berdua, dilihatnya wajah
baro lekat lekat oleh bomi.
“tapi
hyeri-ah!” kata bomi bingung, dan kini
bomi yang menegeluarkan airmatanya, hyeri memeluk bomi.
“aku
percaya padamu bomi-ya. Hanya kau atu-satunya yeoja yang bisa membuat oppa
bahagia, dan oppa hanya mencintai kau bomi-ya.”
Bomi
menangis dalam pelukan hyeri, begitupun hyeri,
“aku tak
percaya kau akan melakukan hal ini hyeri-ah. Aku piker kau akan marah dan
menghukumku.”
“iya aku
akan menghukum mu dengan cara bahagiakan oppa bomi-ya! Jika kau melukai hatinya
aku akan bersumpah untuk menjadikan oppa suamiku.”
Baro
tersenyum melihat semua ini,
“aku
janji hyeri-ah , aku akan menjaga oppa mu ini.” Hyeri menghapus air mata bomi.
“ne..
aku percaya padamu.”
Semua
orang takjub melihat kejaian ini, Eomma baro meneteskan airmata dan kini diinya
merasa bersalah.
“mianhaeto
sayangku, selama ini eomma tak mengerti perasaanmu, eomma terus memaksamu
untung bertunangan dengan hyeri-ah, tapi sekarang hyeri-ah yang melepaskanmu
dan membiarkanmu bersama bomi yeoja yang selama ini menjadi sahabatmu sekaligus
yeoja yang telah membuatmu jatuh inta.” Eomma menangis dalam pelukan baro.
“ne
Eomma, aku mengerti perasaan eomma, aku juga minta maaf sama eomma, jika selama
ini aku tak mengatakan pada eomma bahwa aku mencintai bomi.” Baro memeluk erat
Eommanya, setelah itu baro mengajak bomi kedepan untuk menyelesaikan acara ini,
hyeri tersenyum lega melihat barp dan bomi bahagia.
Aku yakin oppa bersama bomi kau
akan merasakan cinta yang sesungguhnya, dan aku aku hanya yeodongsaengmu oppa.
Acarapun
teus dilanjutkan. Bomi memasukan cincin itu kejari baro begitupun sebaliknya
baro memasukan cincin kejari bomi, mereka tersenyum dan melihat kearah hyeri,
hyeri membalas senyuman mereka dan memberikan jempol pada baro dan bomi,
Baro
memeluk bomi dengan erat
Aku percaya bahwa kau dan aku ditakdirkan
untuk bersama, karena aku yakin kau adalah pasangan hidupku
Terimakasih
tuhan kini aku bisa memiliki seutuhya
namja yang aku cintai, gomawo hyeri-ah aku akan selalu mengingatmu dan aku
berharap kau akan menemukan namja yang lebih baik dari baro, dankdia
mencintaimu apa adanya.
“bomi-ya apa besok kau ada
jadwal?”
“aish
kau ini. Besok aku mesih harus kuliah.”
“geureh
besoka akan kuantar kau menggunakan sepeda yang telah kuhias sendiri,”
“maksudmu.”
“sudahlah
diam besok kau akan tau.”
Baro
tersenyum kearah bomi, dan kedua orang tua baro baru sadar jika cinta itu
memang tak bisa di paksakan.
***
Kring..kring,..kring…
suara bel sepeda baro,
“bomi-ya!
Palli nanti kita terlambat.”
“aduh
aduh, baro mengapa kamu menggunakan sepeda yang penuh dengan hiasan ini?” Tanya
Eomma bomi heran melihat baro.
“ah,
ahjuma, lihatlah nanti aku akan membawa bomi jalan jalan mengelilingi kota
seoul menggunakan sepeda ini.”
“mwo?
Menggunakan sepeda kau ini ada-ada saja.” Eomma bomi masuk kedalam rumah.
“Eomma
aku berangkat ya,”
“kau tak
sarapan dulu?”
“tak
usah aku sudah memakan satu buah roti.”
“cepatlah
baro sudah menunggumu didepan, dia sangat tampan.” Eomma bomi mencoba menggoda.
“aish
eomma ini ada ada saja. Geure akuberangkat eomma dah.” Bomi melambaikan
tangannya.
Saat
bomi keluar bomi terkejut melihat dandanan baro dan sepeda miliknaya.
“aigooo!!!!!
Baro-ya apa yang kau lakukan?”
“silahkan my princes pangeran sudah menggumu dari tadi.”
“
hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
Baro
mengulurkan tanganya dan menuntun bomi menaiki sepeda miliknya.
“apa kau
siap tuan putri??” Tanya baro semangat.
“ayooooooo!!!!!!”
Akhirnya kini aku mengerti bahwa
cinta itu tak
END

|| Title : Fallin In Love With a Friend || Author
: K.EL GD ||
Main Cast :, Baro [ B1A4 ], Bomi [ A-pink ], Hyeri [G D ] ||
Leight : One Shoot ||
Genre : Romantic ||
*perhatikan tulisan yang miring [
ungkapan dalam hati all cast ]
Summer: Masih adakah waktu untukku
mengatakan bahwa aku tidak hanya sekedar membutuhkanmu, tapi aku juga
mencintaimu.
***
Bomi
tergesa gesa berangkat dia langsung mengambil roti tawar yang telah di siapkan
Eomma.
“Eomma.
Bomi berangkat yah.. dah..” teriak bomi sambil memakai sepatu.
“sayang,
apa kamu tak sarapan dulu?” Eomma membalas teriak dai dapur.
“ngga
usah. Ma udah telat nih… aku berangkat yah, dah!!.”
Brakk,
bomi membanting pintu tak sengaja, “Ups, mianhae eomma,” bomi keluar rumah dan
mendapati baro didepan rumahnya. Karena rumah baro tepat berada didepan rumah
bomi.
“bomi-ya!
Palli! Mengapa kau terlambat 1 menit?”
“mianhae
baro-ya! Mengapa kau sangat perhitungan sekali?”
“kau tau
kata pepatahkan bahwa waktu itu adalah uang.”
“aisshh,
sudahlah jangan bersastrawan di depanku. Mana helmku?”
“ini.”
Wusshhhhh...
grengggggg… grengggggg. Baro pun menggas motornya.
***
“haa…
syukurlah kita belum terlambat.” Kata baro lega.
Bomi
cengengesan. “Heeheheheh mianhaeyo. Baro-ya! Ternyata jadwalnya masih satu jam
lagi.”
“aigoo!
Bomi-ya mengapa kau pabo sekali!” Baro menjitak kepala Bomi. Bomi hanya
meringis kesakitan.
“awww.!
Sakit tau! Hehheheh”
“dasar
yeoja pabo.! mengapa bisa begitu?”
“mianhae,
aku salah melihat jadwal tadi.” Bomi menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“geureh
kalo begitu aku mau kekampusku dulu.”
“yah,
secepat itu memangnya kau harus meninggalkanku.”
“hahahah,
bomi-ya kau ini lucu sekali. Bukannya setiap hari kita melakukan ritual ini?”
“emm,
yah…” bomi gugup.
“atau
kau sedang merindukanku saat ini?” Tanya baro menggoda, sehingga membuat rona
merah dipipi bomi terlihat.
“aishh
ani, pede sekali kau! Ya sudah pergi
sana! Palli pali!”
“hahahah
ne, ne aku akan pergi.” Baro langsung menstater motornya.
Bremm…
breemmmm…
“geureh,
aku akan berangkat dulu ne. bomi-ya kau jangan merindukanku terus.”
“tidak
akan. Huft.”
“ne..ne..
oh ya, nanti jika kau sudah pulang telfon aku ya, aku akan menjemputmu..bye
bye..” baro melajukan motornya
“bye..”
Bomi melambaikan tangannya, “aku memang selalu merindukanmu baro-ya.” Tanpa
sadar bomi mengatakn hal itu, dan dia tersenyum sendiri karena merasa aneh
dengan perkataannya.
***
Seperti
biasanya Baro dan bomi datang ke sebuah tempat yang diberi nama “BABO Castile”
dan seperti biasanya mereka memainkan jungkat jungkit sambil bercerita, entah
tentang masalah dikampus, masalah keluarga atau masalah lainnya. Tapi dari dulu
keduanya sama sekali belum bercerita tentang kekasih mereka masing-masing.
“bomi-ya.
Apa kau sudah tau tentang Negara kita?”
“memangnya
Negara kita ini kenapa?”
“banyak
orangkan?”
“ah! Kau
ini bodoh atau hanya pura-pura. Memanglah di Negara kita ini banyak orang.”
“tapi
apakah kau tau? Aku selalu merasa di Negara hanya ada kau dan aku.” Perkataan baro cukup membuat bomi terkejut.
“mwo?
Memangnya kau anggap apa mereka semua?”
“entahlah
tapi memang itu yang kurasakan bomi-ya. Apa kau merasakan hal yang sama
sepertiku?”
Aish mengapa baro membuat
jantungku berdegup kencang? Apa yang dia katakan sehingga membuatku mati gaya
seperti ini?
“ya!!
Bomi-ya. Kau mendengarkan aku tidak?”
Disaat
mereka sedang bercerita tiba tiba ada seorang yeoja yang memanggil baro.
“Baro-ya!!”
“aih?
Siapa dia? Apa kau mengenalnya?” Tanya bomi curiga.
“Em,,
nanti kujelaskan.” Baro langsung berdiri, dan ia lupa kalo dirinya sedang
bermain jungkat jungkit bersama bomi.
*brakk
“aww.
Napeun!.” bomi terkejut.
“mianhae.”
“anyeong..”
sapa yeoja itu ramah.
Bomi
langsung beridiri disamping baro sambil menundukan kepala, “anyeong..”
“Hyeri
imnida. “ yeoja itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya. Bomi pun
membalas uluran tangan hyeri. “Bomi imnida.”
“hyeri-ah
jam berapa kau menuju kesini?”
“hah,
baru tadi oppa, dan ahjumma menyuruhku untuk menjemputmu.”
“mengapa
kau mau? Apa kau tak lelah karena perjalananmu menuju kemari?”
“ani..
karena aku sangat merindukanmu oppa.” Tiba tiba hyeri memeluk baro. Baro pun
trkejut dan langsung melihat kearah bomi. Bomi hanya tersenyum.
Aigo beraninya dia memeluk baro?
Siapa yoeja ini, aishh mengapa aku marah jika hyeri memeluk baro. Memangnya aku
dan baro berpacaran?
“oppa,
ayo kita pulang.”
“em ne,
bomi-ya aku mau pulang dulu.” Bomi masih melamun. “bomi-ya!” bomi terkejut
karena teriakan baro.
“em, ne
ada apa?”
“aish
kau ini. Aku mau pulang dulu dengan hyeri apa kau mau ikut?.”
“ne,
silahkan saja. Aku nanti bisa pulang sendiri.”
“gwaenchanayo?”
baro khawatir dengan bomi.
“ne. aku
akan baik-baik saja. Pulanglah.” Dengan senyuman bomi melepas baro pulang.
“gomawo,
kami pulang dulu ya” kata hyeri ceria.
“bye”
baro melambaikan tangannya. Bomi pun membalas lambaian tangan baro dan hyeri.
Seketika baro langsung hilang dari pandangan bomi. “baro-ya kajjima!” tanpa
sadar bomi mengatakan itu.
Mengapa rasanya aku tak rela jika
ada yeoja lain yang dekat dengan baro? Dan aku tak ingin kau pergi baro-ya.
“aish
pabo!!” tiba tiba bomi memukul mukul kepalanya sendiri. “mengapa kau
memikirkannya? Apa dia itu kekasihmu dia hanya sahabatmu!” bomi kesal pada
dirinya sendiri. Akhirnya bomi memutuskan untuk pulang.
***
Diruang
makan, keluarga Cha ( Keluarga Baro )
dengan keluarga Kim ( Keluarga Hyeri) sedang membicarakan pengalaman mereka.
“hah,
baro kau tak keberatan kan jika hyeri
ini masuk di universitasmu.” Kata eomma baro tiba tiba dan itu membuat baro
terkejut.
“iya
baro-ya! Kami sudah sepakat untuk memasukan hyeri ke universitasmu.”
“mwo?
Eomma tidak sedang bercandakan?”
“iya
sayang, dan lagi pula hyeri sudah diterima kok, dia sudah mendaftar beberapa
bulan yang lalu.”
“tapii.
Eomma..”
“waeyo
sayang? Bagaimana dengan bomi?”
“itu
urusanmu, bicara baik baik dengan bomi sayang.”
“ya!
Oppa asik aku sekampus denganmu,” kata hyeri senang. “nanti kita pasti
berangkat bersama,”
Baro hanya tersenyum. Bomi-ya
bagaimana ini? Aku aku bingung pa yang harus kukatakan padamu nanti.
Selesai
makan hyeri mengajak baro untuk duduk diteras kamar baro yang terletak dilantai
2. Dan saat itu bomi juga ada di teras kamarnya yang berada dilantai 2 juga,
jadi kamar baro dan bomi saling berhadapan.
Baro membuka pintu dan melihat bomi diseberang.
Bomi-ya entah mengapa aku sangat
merindukanmu.
Baro-ya apa kau mengerti
perasaanku? Aku sangat merindukanmu
“oppa.”
Hyeri membuyarkan lamunan baro, dan ketika bomi melihat hyeri bersama baro bomi
langsung masuk dan menutup pintunya.
“oh, ne
oppa sedang apa?”
“ah
tidak aku hanya memandang langit.”
“memangnya
dilangit ada apa?”
“ada
bintang bulan.” Kata baro garing.
“ah
oppa, ini aku bawakan air.” Hyeri menyodorkan satu gelas air.
“gomawo.”
Kata baro singkat.
“oppa,
siapa yeoja yang tadi bersamamu?”
“dia
sahabatku. Wae?”
“ani.”
Oppa aku sangat mencintaimu, dan
aku tak ingin ada satupun yeoja yang dekat denganmu, tapi dia sahabtmu,
bagaimna mungkin aku bisa memisahkan kalian.
***
Seperti
biasa bomi menunggu baro keluar dari rumahnya. 10 menit pun berlalu.
“aish
kau kemana sih?” karena bomi sudah tak sabar menunggu baro, akhrinya bomi masuk
kerumah baro.
“permisi.”
Bomi menekan bel rumah baro.
*krek
suara pintu diuka ole eomma baro.
“anyeong
ahjuma. Apa baro ada?”
“ha,
baro kan sudah berangkat bersama hyeri.”
“sudah
berangkat bersama hyeri.”
“ne..
apa kau belum diberitahu oleh baro? Sekarang baro dan hyeri satu universitas,
jadi baro akan berangkat bersama hyeri setiap hari.”
“oh, ne
eomma gomawo.” Dengan perasaan yang hancur bomi keluar dari rumah baro dan ia memutuskan untuk jalan
kaki untuk berangkat kekampusnya.
Dalam
perjalan menuju kampus bomi terus bertanya Tanya.
Baro-ya mengapa kau tega biarkan
aku seperti ini demi yeoja itu? Apa kau sudah lupa dengan sahabatmu ini? Hah ?
Tak terasa tiba tiba bomi meneteskan airmatanya.
Dikampus
baro terus memikirkan keadaan bomi.
Bomi-ya mianhaeyo. Aku tak
bermaksud meninggalkanmu. Tapi keadaan ini sangat mendadak, jeongmal mianhaeyo
bomi-ya.
Baro
mengirimkan peesan pada bomi untuk meminta maaf karena pagi ini dan sorenya ia
tak dapat menjemput bomi, tapi tak ada satupun pesan yang dibalas bomi dan
keika baro menelefon bomi, tapi bomi tak menjawabnya. Baro semakin gelisah.
Baro mencoba mengubungi bomi lagi
Bomi-ya gwaenchanyayo? Kau jangan
membuatku khawatir. Kumohon angkatlah telefonmu
“oppa?
Gwaenchanhayo? Kau sedang menelefon siapa sih?”
“aku
baik saja, dan aku sednag menelefon temanku tapi dia tak mengangkatnya.”
“maksudmu
bomi?” baro hanya mengangguk.
***
Baro
melihat bomi menangis di Babo Castil,
“bomi-ya
gwaenchanayo? Hey mengapa kau menangis?” bomi tak menghiraukan kedatangan baro.
“bomi-ya
ceritalah padaku.”
“Napeun!!!”
“waeyo?”
“hem!!”
bomi tersenyum sinis sambil menahan airmatanya.
“mianhaeyo
bomi-ya jeongmal mianhae.”
“ne aku
mengerti kok, kau lebih sayang pada hyeri dari pada aku.
“mian
sebelumnya aku belum bicara bahwa aku dan hyeri satu kampus.”
“sudahlah
lupakan saja, aku mengerti kok,”
“bomi-ya
aku mau mengatakn sesuatu padamu.”
“katakan
saja.”
“aku mau
memberitahumu siapa hyeri.”
“… “
“hyeri
itu tunanganku.”
“apa?
Hyeri.? Hyeri itu hyeri itu tunangan, tunanganmu?” dengan tak percaya bomi
langsung berdiri dan berjalan untuk pulang.
“bomi-ya
kau mau kemana?”
Bomi
menahan tangis. “aku… mau pulang.”
“bomi-ya
tunggu.” Baro menarik tangan bomi.
“lepaskan
tanganku baro-ya.”
“tidak
aku tak akan melepaskan tangnmu. Kumohon jangan pergi.” Tiba tiba baro memeluk
bomi.
“lepaskan
aku, sekarang kau bukan milikku seutuhnya,”
“tapi
kau tetap sahabat terbaikku,”
“ne, aku
sahabat terbaikmu. Gomawo baro-ya. Kumohon lepaskan aku.” Bomi menangis di
pundak baro dan memaksa baro untuk melepaskan pelukannya.
Gomawo baro-ya selama ini kau
yang selalu mengisi hari hariku, mungkin jika aku mengetahui hal inii aku tak
akan membuang buang waktuku saat bersammamu, namun semua telah terlambat, sekarang
kau memiliki pendamping yang selalu menemanimu kapan saja, yah hyeri . sekarang
kau tak perlu membutuhkanku lagi.
Air mata bomi terus mengalir dan tak bisa di tahan, betapa hancurnya hati bomi
saat menetahui bahwa hyeri itu tunangan baro, seperti ada pisau tajam yang
menusuk nusuk hatinya
***
Sudah
hampir 1 bulan baro tak bermain dengan bomi, dan itu membuat bomi merasa
kehilangan baro,
“baro-ya!
Apa kau tau? Aku sangat merindukan kehadiranmu. Aku merindukan tawamu dan aku
merindukan kau ada disampingku.” Perlahan air mata bomi jatuh membasahi
pipinya, bomi melihat keluar kamar, dan ia mendapati baro sedang melihat kearah
kamar bomi
“Bomi-ya!”
baro memanggil bomi dari seberang. Bomi hanya tersenyum. “keluarlah temani
aku.”
“ne..
mengapa kau belum tidur?”
“aku tak
bisa tidur, dan rasanya aku ingin sekali memandang langit.”
“oh,”
“lalu
mengapa kau sendiri belum tidur?”
“aku..
aku .. aku juga tak bisa tidur.”
“wah
kita sehati bomi-ya! Sudah lama sekali kita tak bertemu.”
“belum
lama kok, 1 bulan aja belum.”
“aish
kau ini tega sekali! Apa kau tak merindukanku?” Teriak baro.
“hahah.
Aku .. buat apa aku merindukanmu.”
“dasar!
Mengapa kau tega sekali mengatakan itu padaku! Apa kau tak mengerti bahwa aku
sangat merindukanmu bomi-ya!”
“merindukanku?”
sebenarnya aku juga sangat merindukanmu
Baro-ya tapi aku tak mungkin mengatakn hal itu. “untuk apa kau
merindukanku? Bukannya kau sudah memiliki hyeri. Kurasa kau tak pantas
merindukanku baro-ya!” bomi tersenyum miris. Baro hanya terdiam baro mengerti
perasaan bomi.
“bomi-ya!
Lihatlah ada bintang jatuh.” Baro
menunjuk bintang yang sedang jatuh yang letaknya tepat berada ditengah tengah
antara rumah baro dan bomi.
“kajja
minta 1 permintaan.” Baro langsung menutup matanya, dan bomi mengikuti apa yang
baro lakukan.
Tuhan, aku hanya ingin satu
permintaan padamu, kumohon satukanlah kembali aku dengan bomi. Jujur aku merasa
sangat kehilangannya, dan kurasa aku mencintainya, kumohon tuhan beritahu
padanya bahwa aku sangat menginginkan dia sebagai pendamping hidupku kelak.
Tuhan jika memang ini jalanmu
untuk memisahkan aku dengan baro, aku mencoba untuk bisa menerima semuanya,
tapi tuhan jika kau menuruhku untuk melupakan baro dan membuang perasaan ini
aku sungguh tak sanggup. Aku bahagia jika melihat baro tersenyum meskipun bukan
aku yang mengukir senyum indah diwajah baro. Jadi kumohon tuhan bantu aku untuk
menjaga perasaanku ini.
Baro dan
bomi membuka matanya bersamaan.
“bomi-ya
apa yang kau minta?”
“ahh
aku, hanya meminta perlindungan saja. Kau sendiri?”
“aku
hanya ingin meminta keadilan.”
“keadilan?”
“yah,
keadilan tentang perasaanku.”
“ohh…
geureh baro-ya! Aku mau tidur ne.”
“ne
tidurlah bomi-ya dan mimpi indahlah.”
“ne kau
juga, jaljjayeo baro-ya.” Baro mengangguk dan tersenyum. Bomi pun masuk
kedalam.
Aku percaya kau juga mempunyai
perasaan yang sama denganku bomi-ya.
***
Satu
minggu lagi acara pertunangan antara baro dan hyeri akan dilaksanakan. Bomi semakin
terpukul karena hyeri meminta bomi untuk
mengatur semua acara mereka, dengan alasan karena bomi adalah sahabat baik
baro. Dan hari ini hyeri mengajak bomi untuk membeli cincin pertunangannya
dengan baro dan memilih milih gaun yang akan dipakenya diacara pertunangan
nanti.
Mobil
baro dan hyeri datang ke kampus bomi untuk menjemput bomi
“bomi-ya
ayo antarkan aku dengan oppa membeli cincin.”
“ha?”
bomi terkejut atas ajakan hyeri.
“kau
sudah tak ada kelas kan?”
“em,
iya. Tapi.”
“sudahlah
ayo ikutlah dengan kami, jeball.”
“em
geureh aku akan ikut dengan kalian. Akhirnya bomi membuka pintu mobil.
Hati
bomi sngat sakit karena melihat tingkah hyeri yang dilakukan pada baro,sahabat
kecilnya yang mampu membuat dirinya merasakan apa itu cinta.
Tuhan kumohon kuatkanlah hatiku
menghadapi semua ini, aku senang melihat baro tersenyum, kumohon jangan
turunkan airmata ini,
mata bomi mulai berkaca-kaca. Baro yang mengetahui hal itu hanya diam saja,
baro mengerti perasaan bomi,
Mianhaeyo bomi-ya aku sebenarnya
tak mau melakukan sandiwara ini. Tapi aku yakin kau kuat menghadapinya, karena
kau bomi kecilku yang selalu kuat menghadapi sesuatu, meskipun ini membuat dirimu
terluka, kumohon jangan menangis, tahan lah airmatamu itu, karena saat ini aku
tak mampu menghapusnya.
Baro
sesekali melihat bomi melalui kaca. Dan
baro melihat bomi hampir menangis.
***
“oppa
kau suka yang mana?” hyei menunjuk beberapa model cincin,
“terserah
kau saja,”
“hah
bomi-ya! Apa menurutmu yang ini bagus?”
“ah ne
ini sangat bagus.”
“oppa
apa menurutmu ini bagus.”
“ne itu
bagus,”
“geureh
kita ambil yang ini ya.”
“….”
Baro terus memperhatikan bomi, ada sedikit kekecewaan yang tergambar
diwajahnya.
Setelah
selesai memilih cincin kini mereka harus memilih gaun untuk baro dan hyeri.
Selesai memilih gaun hyeri mengaja bomi untuk makan, sekaligus mengucapkan
terimakasuh karena bomi mau menemaninya hari ini.
“bomi-ya
gomawo ne, hari ini kau telah menemaniku dan oppa.”
“eh, ne
cheonma..” bomi hanya tersenyum tipis.
“oh
iya.., ceritakan dong pengalam menarik kalian dulu sewaktu kecil.”
“hahah
tidak perlu diceritakan kurasa kami sudah melupakannya” kata bomi sambil
sesekali melihat kearah baro.
Akhirnya
mereka memutuskan untung mendengar cerita hyeri dengan baro sehingga mereka
bisa dijodohkan. Dan itu membuat hati bomi semakin rapuh.
***
Bomi
datang ke Babo Castile, malam ini. Hati semakin terasa sakit karena 2 hari lagi
baro aka bertunangan dengan hyeri.
“baro-ya
aku akui aku tidak hanya membutuhkan
kehadiranmu disampingku, tapi aku juga membutuhkan cintamu. Aku baru sadar jika
aku benar-benar mencintaimu.” Bomi meneteskan airmatanya,
“mungkin
aku terlalu munafik untuk mengatakan perasaan ini padamu, tapi aku benar benar
tak bisa menahan semua ini, hiks.. jika kau bertanya apakah aku kehilanganmu,
atau apakah aku merindukanmu, atau bahkan kau betanya apakah aku mencintaimu,
aku akan menjawab IYA.!”
Bomi
menangi s tanpa henti, “Kumohon hentikanlah waktu, aku tak ingin acara
pertunangan itu dilaksanakan. Arghhhhhh!!” Bomi meringkukan dirinya dibawah
pohon, air matanya terus mengalir sehingga membuat mata bomi terlihat bengkak.
Tap…
Tap.. Tap…
Bomi
mendengar suara orang berjalan yang mendekat kearahnya, bomi takut tak berani
melihat siapa yang datang, tiba tiba orang itu memeluk bomi, bomi terkejut dia
melihat wajah baro tepat berada diatas kepala bomi.
“baro-ya!”
“ne
bomi-ya sahabat ku, ini aku sahabatmu.”
“hem,
untuk apa kau kesini? Bukannya kau harus siap siap untuk acara pert…” perkataan
bomi di hentikan oleh baro.
“sssttt
sudahlah, lupakan saja acara pertunangn itu. Dan saat ini aku hanya ingin
bersamamu bomi-ya! Aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku hanya
bersamamu.”
“tapi
hyeri adalah tunanganmu. Untuk apa kau memikirkanku?”
“iya,
hyeri memang tunangan aku, tapi dia bukan yeoja yang aku cinta. Jujur bomi-ya
kau merasakan apa yang kurasakan? Katakanlah kau juga merasa kehilangan ku dan
katakanlah jika kau mencintaiku. Katakanlah bomi-ya!” baro menatap bomi tajam,
matanya sudah berkaca-kaca, dan airmatanya mulai menetes.
“tidak,
kau salah baro-ya, aku sama sekali tak merasa bahwa aku kehilanganmu, dan
mencintaimu? Aku tak merasakan perasaan itu.” Bomi berusaha berbohong menutupi
perasaannya, dan ia menahan tangis.
“hah?
Kau bilang kau tak kehilanganku dan kau tak mencintaiku? Omong kosong, untuk
apa kau berbohong padaku? Aku tak bisa kau bohongi bomi-ya. Aku ini sahabatmu
aku tau semua tentangmu.”
Bomi
langsung berdir di ikuti baro, “iya. Aku memang kehilanganmu baro-ya, dan aku
juga mencintaimu, tapi aku tak pantas memilikimu, aku ini bukan jodohmu, aku
ini hanya sahabatmu.!!”
“kau
memang sahabatku, tapi apakah aku salah jika aku menjadikanmu sebagai yeoja
yang kucinta, apa aku salah jika aku mencintai sahabatku sendiri.”
“kau
sangat salah baro-ya, kau salah jika kau
mencintaiku, aku ini bukan pasanganmu, aku hanya sekedar sahabatmu, kau berhak
dimilik yeoja lain selain aku.!”
“tapi
aku hanya ingin memilikimu, dan aku yakin kau ini pasangan hidupku!”
“enggak!
Aku bukan pasangan hidupmu, pasanganmu adalah hyeri! Pulanglah baro-ya,
temuilah hyeri. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.”
“tapi
aku tidak bisa bahagia. Aku ingin bersamamu, untuk apa aku melangsungkan
pertunangan ini jika aku tak mencintai hyeri? Kumohon percayalah padaku, bahkan
jika kau ingin aku untuk memmbatalkan pertunangan ini, aku akan lakukan.”
“andwae!!
Pertunanganmu dengan hyeri tak boleh dibatalkan. Aku yakin hyeri yeoja yang
baik untukmu.”
“tidak!
Aku akan tetap membatalkan pertunangan ini, kau ini pasanganku bomi-ya!”
“jangan.!!
Baiklah jika kau memaksa! Kita mengadakan taruhan saja,”
“taruhan?”
“iya
taruhan, jika malam ini ada bintang jatuh, berarti itu meanandakan bahwa kau
dan aku memang ditakdirkan untuk bersama dan kau berhak membatalkan pertunangan
itu , tapi jika malam ini tak ada satupun bintang yang jatuh biarlah aku
merelakanmu untuk bertunangan dengan hyeri. Bagaimana? Apa kau siap?”
“tapi
ini tak adil.”
“kita
serahkan saja pada tuhan, kita tunggu sampai fajar tiba.”
Akhirnya
baro dan bomi, tiduran sambil memandang langit, menunggu bintang jatuh.
“apa kau
yakin bomi-ya?” baro meneteskan air
mata, begitu juga bomi.
“aku
akan siap menrima semua keputusan ini,”
Baro melihat jam tangan begitu juga bomi, hari
sudah mulai fajar, tapi tak ada satupun bintang yang jatuh, itu tandanya baro
tetap melangsungkan pertunangannya bersama hyeri. Baro menangis, sebenarnya ia
tak mau menerima kenyataan.
“baro-ya
sekarang sudah jelas, bintang tak ada satupu yang jatuh, pergilah temui hyeri.”
Kata bomi sambil membelakangi baro, dan tak ingin melihat baro, tapi tiba tiba
baro memeluk bomi, sambil menangis.
“bomi-ya
aku akan tetap mencintaimu,… aku aku tak ingin seperti ini,” air mata baro
mengalir deras.
“sudahlah
baro-ya, aku ini tetap sahabatmi, jika kau membutuhkanku datanglah padaku. Aku
akan selalu ada untukmu.” Tangis bomi membasahi baju baro. Bomi melepaskan
pelukan baro,
“biarkan
BABO CASTILE ini menjadi saksi cinta kita berdua, di BABO CASTILE ini banyak
mengukir kenangan tentang kita, baro-ya. Jika suatu saat kau merindukanku,
datanglah kesini, karena jiwaku akan selalu ada di Babo Castile ini.”
“ne,
begitupun kau bomi-ya. Aku akan selalu
menjaga Babo Castile ini, karena disinilah kita bisa merasakan jatuh cinta.”
“hem ne.
pulanglah baro-ya! Temuilah hyeri peluklah dia dan katakana bahwa kau sangat
mencintainya.” Bomi mengusap air matanya dan meninggalkan baro.
“bomi-ya!”
baro berteriak. “ Saranghae”
Bomi
hanya membalas dengan senyuman dan menengok ke arah baro,
“nado
saranghae baro-ya” kata bomi lirih sambil berjalan meninggalkan baro.
***
Hari ini
hari pertunangan baro dan hyeri, bomi melihat betapa sibuknya orang-orang yang
ada dirumah baro. Acaranya akan diadakan nanti malam.
“baro-ya
selamat.” Bomi tersenyum miris dan matanya sudah berkaca-kaca. Baro yang keluar
dari rumahnya bersama hyeri melihat keberadaan bomi,
“oppa,
gwaenchanayo?” hyeri melihat kearah kamar bomi.
“oh ne.”
“kajja
oppa.” Hyeri menggandeng baro.
***
Malam
harinya bomi bersiap datang keacara pertunangan baro, di depan bomi melihat
baro dan hyeri sudah di rias dan baro terlihat begitu tampan,
Baro-ya aku yakin ini keputusan
yang tepat.
Baro
mencari cari keberadaan bomi,
Bomi-ya apa kau tak ingin datang melihat ini. Baro merasa khawatir.
“oppa,
apa kau mencari bomi?” Tanya hyeri tiba-tiba.
“ah ne,
aku mencarinya,”
“jangan
khawatir aku yakin bomi pasti akan datang. Nah lihatlah itu oppa, itu bomi
sudah ada disana.”
Hyeri
menunjuk kearah bomi, baro hanya tersenyum tipis, dan kini pandangannya hanya
tertuju pada bomi,
Acara
tukar cincin pun sudah dimulai, tiba tiba disaat hyeri akan memasukan cincinnya
kejari baro geraknya terhenti, sesekali ia melihat kearah bomi dan baro.
“waeyo
sayang?” Tanya eomma baro, semua tamu terheran atas tindakan hyeri.
“ha! Apa
yang yeoja itu lakukan?” Tanya salah seorang tamu undangan.
Hyeri
jalan menuju dimana bomi berdiri, semua orang terkejut karena tindakan hyeri
ini, kedua orang tua hyeri dan baro bingung. Apa yang di lakukan oleh hyeri
pada yeoja itu? Pertanyaan itu kini terbesit didalam hati masing masing tamu.
“bomi-ya!”
hyeri memulai pembicaraan matanya mulai berkaca-kaca. “aku akan memberikan
cincin ini untukmu, sekarang masukanlah cincin ini ke jari oppa.” Hyeri
menyerahkan cincinya ke bomi, bomi bingung dengan maksud hyeri, baro hanya
terdiam melihat yeoja yang sangat dia cintai dan yeoja yang akan menjadi calon
istrinya nanti.
“apa
maksud mu hyeri-ah?”
“kumohon
masukanlah, jangan kau menyimpan perasaanmu pada oppa lebih dalam,”
“tapi
ini acaramu, aku tak mau melakukannya.”
“tenanglah
bomi-ya aku sudah tau semua,”
“bagaimana
kau bisa tau?” kata bomi penasaran.
“kemarin,
Saat aku membereskan kamar oppa, aku melihat foto oppa bersama mu, dan awalnya
aku anggap kalian hanya sahabat yang saling menyanyangi, dan kalian tak
mempunyai perasaan satu sama lain, tapi disaat aku membuka bagian belakang
salah satu foto itu, aku melihat puisi yang oppa tulis dan itu untukmu.
Dear my lovely
friend Bomi.
Dalam gelapnya
malam aku mencoba mencarimu, apa kau tau aku terjebak oleh gumpalan awan hitam
yang mencoba membawaku jauh darimu.
Dalam gelapnya
malam yang dihiasi beribu bintang, aku mencoba melihatmu namun tak kutemukan
sosok dirimu,
Benarkah kau
meninggalkanku? Dan meninggalkan cintamu dalam hatiku?
Aku hanya ingin
mempersembahkan cintaku padamu,
Tahukah engkau? Aku
sangat kehilanganmu,
Kehilangan sosok
seorang sahabat sekaligus pengisi hatiku,
Aku memang salah
karena aku baru menyadarinya jika aku mencintaimu,
Meskipun aku sudah
bersama yeoja lain,
Aku ingin kau
mengetahui satu hal saja,
Bahwa aku tak bisa
membuang rasa cintaku ini sampai kapanpun.
Saranghae bomi-ya
Jeongmal saranghae.
“
sekarang kau tak perlu lagi bohong pada perasaanmu sendiri, aku tau ini sangat
menyakitkan, tapi untuk apa aku bersama
dengan seorang namja yang sama sekali tak mencintaiku, tapi ia mencintai orang
lain”
Hyeri
meneteskan air matanya, dan baro berjalan mnuju mereka berdua, dilihatnya wajah
baro lekat lekat oleh bomi.
“tapi
hyeri-ah!” kata bomi bingung, dan kini
bomi yang menegeluarkan airmatanya, hyeri memeluk bomi.
“aku
percaya padamu bomi-ya. Hanya kau atu-satunya yeoja yang bisa membuat oppa
bahagia, dan oppa hanya mencintai kau bomi-ya.”
Bomi
menangis dalam pelukan hyeri, begitupun hyeri,
“aku tak
percaya kau akan melakukan hal ini hyeri-ah. Aku piker kau akan marah dan
menghukumku.”
“iya aku
akan menghukum mu dengan cara bahagiakan oppa bomi-ya! Jika kau melukai hatinya
aku akan bersumpah untuk menjadikan oppa suamiku.”
Baro
tersenyum melihat semua ini,
“aku
janji hyeri-ah , aku akan menjaga oppa mu ini.” Hyeri menghapus air mata bomi.
“ne..
aku percaya padamu.”
Semua
orang takjub melihat kejaian ini, Eomma baro meneteskan airmata dan kini diinya
merasa bersalah.
“mianhaeto
sayangku, selama ini eomma tak mengerti perasaanmu, eomma terus memaksamu
untung bertunangan dengan hyeri-ah, tapi sekarang hyeri-ah yang melepaskanmu
dan membiarkanmu bersama bomi yeoja yang selama ini menjadi sahabatmu sekaligus
yeoja yang telah membuatmu jatuh inta.” Eomma menangis dalam pelukan baro.
“ne
Eomma, aku mengerti perasaan eomma, aku juga minta maaf sama eomma, jika selama
ini aku tak mengatakan pada eomma bahwa aku mencintai bomi.” Baro memeluk erat
Eommanya, setelah itu baro mengajak bomi kedepan untuk menyelesaikan acara ini,
hyeri tersenyum lega melihat barp dan bomi bahagia.
Aku yakin oppa bersama bomi kau
akan merasakan cinta yang sesungguhnya, dan aku aku hanya yeodongsaengmu oppa.
Acarapun
teus dilanjutkan. Bomi memasukan cincin itu kejari baro begitupun sebaliknya
baro memasukan cincin kejari bomi, mereka tersenyum dan melihat kearah hyeri,
hyeri membalas senyuman mereka dan memberikan jempol pada baro dan bomi,
Baro
memeluk bomi dengan erat
Aku percaya bahwa kau dan aku ditakdirkan
untuk bersama, karena aku yakin kau adalah pasangan hidupku
Terimakasih
tuhan kini aku bisa memiliki seutuhya
namja yang aku cintai, gomawo hyeri-ah aku akan selalu mengingatmu dan aku
berharap kau akan menemukan namja yang lebih baik dari baro, dankdia
mencintaimu apa adanya.
“bomi-ya apa besok kau ada
jadwal?”
“aish
kau ini. Besok aku mesih harus kuliah.”
“geureh
besoka akan kuantar kau menggunakan sepeda yang telah kuhias sendiri,”
“maksudmu.”
“sudahlah
diam besok kau akan tau.”
Baro
tersenyum kearah bomi, dan kedua orang tua baro baru sadar jika cinta itu
memang tak bisa di paksakan.
***
Kring..kring,..kring…
suara bel sepeda baro,
“bomi-ya!
Palli nanti kita terlambat.”
“aduh
aduh, baro mengapa kamu menggunakan sepeda yang penuh dengan hiasan ini?” Tanya
Eomma bomi heran melihat baro.
“ah,
ahjuma, lihatlah nanti aku akan membawa bomi jalan jalan mengelilingi kota
seoul menggunakan sepeda ini.”
“mwo?
Menggunakan sepeda kau ini ada-ada saja.” Eomma bomi masuk kedalam rumah.
“Eomma
aku berangkat ya,”
“kau tak
sarapan dulu?”
“tak
usah aku sudah memakan satu buah roti.”
“cepatlah
baro sudah menunggumu didepan, dia sangat tampan.” Eomma bomi mencoba menggoda.
“aish
eomma ini ada ada saja. Geure akuberangkat eomma dah.” Bomi melambaikan
tangannya.
Saat
bomi keluar bomi terkejut melihat dandanan baro dan sepeda miliknaya.
“aigooo!!!!!
Baro-ya apa yang kau lakukan?”
“silahkan my princes pangeran sudah menggumu dari tadi.”
“
hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
Baro
mengulurkan tanganya dan menuntun bomi menaiki sepeda miliknya.
“apa kau
siap tuan putri??” Tanya baro semangat.
“ayooooooo!!!!!!”
Akhirnya kini aku mengerti bahwa
cinta itu tak
END