Jumat, 25 Oktober 2013

jrjr.jpg

|| Title  : Fallin In Love With a Friend  || Author  : K.EL GD ||
 Main Cast :, Baro [ B1A4 ],  Bomi [ A-pink ], Hyeri [G D ] ||
Leight : One Shoot ||
Genre  : Romantic ||

*perhatikan tulisan yang miring [ ungkapan dalam hati all cast ]




Summer: Masih adakah waktu untukku mengatakan bahwa aku tidak hanya sekedar membutuhkanmu, tapi aku juga mencintaimu.

***
Bomi tergesa gesa berangkat dia langsung mengambil roti tawar yang telah di siapkan Eomma.
“Eomma. Bomi berangkat yah.. dah..” teriak bomi sambil memakai sepatu.
“sayang, apa kamu tak sarapan dulu?” Eomma membalas teriak dai dapur.
“ngga usah. Ma udah telat nih… aku berangkat yah, dah!!.”
Brakk, bomi membanting pintu tak sengaja, “Ups, mianhae eomma,” bomi keluar rumah dan mendapati baro didepan rumahnya. Karena rumah baro tepat berada didepan rumah bomi.
“bomi-ya! Palli! Mengapa kau terlambat 1 menit?”
“mianhae baro-ya! Mengapa kau sangat perhitungan sekali?”
“kau tau kata pepatahkan bahwa waktu itu adalah uang.”
“aisshh, sudahlah jangan bersastrawan di depanku. Mana helmku?”
“ini.”
Wusshhhhh... grengggggg… grengggggg. Baro pun menggas motornya.
***
“haa… syukurlah kita belum terlambat.” Kata baro lega.
Bomi cengengesan. “Heeheheheh mianhaeyo. Baro-ya! Ternyata jadwalnya masih satu jam lagi.”
“aigoo! Bomi-ya mengapa kau pabo sekali!” Baro menjitak kepala Bomi. Bomi hanya meringis kesakitan.
“awww.! Sakit tau! Hehheheh”
“dasar yeoja pabo.! mengapa bisa begitu?”
“mianhae, aku salah melihat jadwal tadi.” Bomi menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“geureh kalo begitu aku mau kekampusku dulu.”
“yah, secepat itu memangnya kau harus meninggalkanku.”
“hahahah, bomi-ya kau ini lucu sekali. Bukannya setiap hari kita melakukan ritual ini?”
“emm, yah…” bomi gugup.
“atau kau sedang merindukanku saat ini?” Tanya baro menggoda, sehingga membuat rona merah dipipi bomi terlihat.
“aishh ani, pede  sekali kau! Ya sudah pergi sana! Palli pali!”
“hahahah ne, ne aku akan pergi.” Baro langsung menstater motornya.
Bremm… breemmmm…
“geureh, aku akan berangkat dulu ne. bomi-ya kau jangan merindukanku terus.”
“tidak akan. Huft.”
“ne..ne.. oh ya, nanti jika kau sudah pulang telfon aku ya, aku akan menjemputmu..bye bye..” baro melajukan motornya
“bye..” Bomi melambaikan tangannya, “aku memang selalu merindukanmu baro-ya.” Tanpa sadar bomi mengatakn hal itu, dan dia tersenyum sendiri karena merasa aneh dengan perkataannya.
***
Seperti biasanya Baro dan bomi datang ke sebuah tempat yang diberi nama “BABO Castile” dan seperti biasanya mereka memainkan jungkat jungkit sambil bercerita, entah tentang masalah dikampus, masalah keluarga atau masalah lainnya. Tapi dari dulu keduanya sama sekali belum bercerita tentang kekasih mereka masing-masing.
“bomi-ya. Apa kau sudah tau tentang Negara kita?”
“memangnya Negara kita ini kenapa?”
“banyak orangkan?”
“ah! Kau ini bodoh atau hanya pura-pura. Memanglah di Negara kita ini banyak orang.”
“tapi apakah kau tau? Aku selalu merasa di Negara hanya ada kau dan aku.”  Perkataan baro cukup membuat bomi terkejut.
“mwo? Memangnya kau anggap apa mereka semua?”
“entahlah tapi memang itu yang kurasakan bomi-ya. Apa kau merasakan hal yang sama sepertiku?”
Aish mengapa baro membuat jantungku berdegup kencang? Apa yang dia katakan sehingga membuatku mati gaya seperti ini?
“ya!! Bomi-ya. Kau mendengarkan aku tidak?”
Disaat mereka sedang bercerita tiba tiba ada seorang yeoja yang memanggil baro.
“Baro-ya!!”
“aih? Siapa dia? Apa kau mengenalnya?” Tanya bomi curiga.
“Em,, nanti kujelaskan.” Baro langsung berdiri, dan ia lupa kalo dirinya sedang bermain jungkat jungkit bersama bomi.
*brakk
“aww. Napeun!.” bomi terkejut.
“mianhae.”
“anyeong..” sapa yeoja itu ramah.
Bomi langsung beridiri disamping baro sambil menundukan kepala, “anyeong..”
“Hyeri imnida. “ yeoja itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya. Bomi pun membalas uluran tangan hyeri. “Bomi imnida.”
“hyeri-ah jam berapa kau menuju kesini?”
“hah, baru tadi oppa, dan ahjumma menyuruhku untuk menjemputmu.”
“mengapa kau mau? Apa kau tak lelah karena perjalananmu menuju kemari?”
“ani.. karena aku sangat merindukanmu oppa.” Tiba tiba hyeri memeluk baro. Baro pun trkejut dan langsung melihat kearah bomi. Bomi hanya tersenyum.
Aigo beraninya dia memeluk baro? Siapa yoeja ini, aishh mengapa aku marah jika hyeri memeluk baro. Memangnya aku dan baro berpacaran?
“oppa, ayo kita pulang.”
“em ne, bomi-ya aku mau pulang dulu.” Bomi masih melamun. “bomi-ya!” bomi terkejut karena teriakan baro.
“em, ne ada apa?”
“aish kau ini. Aku mau pulang dulu dengan hyeri apa kau mau ikut?.”
“ne, silahkan saja. Aku nanti bisa pulang sendiri.”
“gwaenchanayo?” baro khawatir dengan bomi.
“ne. aku akan baik-baik saja. Pulanglah.” Dengan senyuman bomi melepas baro pulang.
“gomawo, kami pulang dulu ya” kata hyeri ceria.
“bye” baro melambaikan tangannya. Bomi pun membalas lambaian tangan baro dan hyeri. Seketika baro langsung hilang dari pandangan bomi. “baro-ya kajjima!” tanpa sadar bomi mengatakan itu.
Mengapa rasanya aku tak rela jika ada yeoja lain yang dekat dengan baro? Dan aku tak ingin kau pergi baro-ya.
“aish pabo!!” tiba tiba bomi memukul mukul kepalanya sendiri. “mengapa kau memikirkannya? Apa dia itu kekasihmu dia hanya sahabatmu!” bomi kesal pada dirinya sendiri. Akhirnya bomi memutuskan untuk pulang.
***
Diruang makan, keluarga Cha ( Keluarga  Baro ) dengan keluarga Kim ( Keluarga Hyeri) sedang membicarakan pengalaman mereka.
“hah, baro kau tak keberatan kan  jika hyeri ini masuk di universitasmu.” Kata eomma baro tiba tiba dan itu membuat baro terkejut.
“iya baro-ya! Kami sudah sepakat untuk memasukan hyeri ke universitasmu.”
“mwo? Eomma tidak sedang bercandakan?”
“iya sayang, dan lagi pula hyeri sudah diterima kok, dia sudah mendaftar beberapa bulan yang lalu.”
“tapii. Eomma..”
“waeyo sayang? Bagaimana dengan bomi?”
“itu urusanmu, bicara baik baik dengan bomi sayang.”
“ya! Oppa asik aku sekampus denganmu,” kata hyeri senang. “nanti kita pasti berangkat bersama,”
Baro hanya tersenyum. Bomi-ya bagaimana ini? Aku aku bingung pa yang harus kukatakan padamu nanti.
Selesai makan hyeri mengajak baro untuk duduk diteras kamar baro yang terletak dilantai 2. Dan saat itu bomi juga ada di teras kamarnya yang berada dilantai 2 juga, jadi kamar baro dan bomi saling berhadapan.  Baro membuka pintu dan melihat bomi diseberang.
Bomi-ya entah mengapa aku sangat merindukanmu.
Baro-ya apa kau mengerti perasaanku? Aku sangat merindukanmu
“oppa.” Hyeri membuyarkan lamunan baro, dan ketika bomi melihat hyeri bersama baro bomi langsung masuk dan menutup pintunya.
“oh, ne oppa sedang apa?”
“ah tidak aku hanya memandang langit.”
“memangnya dilangit ada apa?”
“ada bintang bulan.” Kata baro garing.
“ah oppa, ini aku bawakan air.” Hyeri menyodorkan satu gelas air.
“gomawo.” Kata baro singkat.
“oppa, siapa yeoja yang tadi bersamamu?”
“dia sahabatku. Wae?”
“ani.”
Oppa aku sangat mencintaimu, dan aku tak ingin ada satupun yeoja yang dekat denganmu, tapi dia sahabtmu, bagaimna mungkin aku bisa memisahkan kalian.
***
Seperti biasa bomi menunggu baro keluar dari rumahnya. 10 menit pun berlalu.
“aish kau kemana sih?” karena bomi sudah tak sabar menunggu baro, akhrinya bomi masuk kerumah baro.
“permisi.” Bomi menekan bel rumah baro.
*krek suara pintu diuka ole eomma baro.
“anyeong ahjuma. Apa baro ada?”
“ha, baro kan sudah berangkat bersama hyeri.”
“sudah berangkat bersama hyeri.”
“ne.. apa kau belum diberitahu oleh baro? Sekarang baro dan hyeri satu universitas, jadi baro akan berangkat bersama hyeri setiap hari.”
“oh, ne eomma gomawo.” Dengan perasaan yang hancur bomi keluar dari     rumah baro dan ia memutuskan untuk jalan kaki untuk berangkat kekampusnya.
Dalam perjalan menuju kampus bomi terus bertanya Tanya.
Baro-ya mengapa kau tega biarkan aku seperti ini demi yeoja itu? Apa kau sudah lupa dengan sahabatmu ini? Hah ?  Tak terasa tiba tiba bomi meneteskan airmatanya. 
Dikampus baro terus memikirkan keadaan bomi.
Bomi-ya mianhaeyo. Aku tak bermaksud meninggalkanmu. Tapi keadaan ini sangat mendadak, jeongmal mianhaeyo bomi-ya.
Baro mengirimkan peesan pada bomi untuk meminta maaf karena pagi ini dan sorenya ia tak dapat menjemput bomi, tapi tak ada satupun pesan yang dibalas bomi dan keika baro menelefon bomi, tapi bomi tak menjawabnya. Baro semakin gelisah. Baro mencoba mengubungi bomi lagi
Bomi-ya gwaenchanyayo? Kau jangan membuatku khawatir. Kumohon angkatlah telefonmu
“oppa? Gwaenchanhayo? Kau sedang menelefon siapa sih?”
“aku baik saja, dan aku sednag menelefon temanku tapi dia tak mengangkatnya.”
“maksudmu bomi?” baro hanya mengangguk.
***
Baro melihat bomi menangis di Babo Castil,
“bomi-ya gwaenchanayo? Hey mengapa kau menangis?” bomi tak menghiraukan kedatangan baro.
“bomi-ya ceritalah padaku.”
“Napeun!!!”
“waeyo?”
“hem!!” bomi tersenyum sinis sambil menahan airmatanya.
“mianhaeyo bomi-ya jeongmal mianhae.”
“ne aku mengerti kok, kau lebih sayang pada hyeri dari pada aku.
“mian sebelumnya aku belum bicara bahwa aku dan hyeri satu kampus.”
“sudahlah lupakan saja, aku mengerti kok,”
“bomi-ya aku mau mengatakn sesuatu padamu.”
“katakan saja.”
“aku mau memberitahumu siapa hyeri.”
“… “
“hyeri itu tunanganku.”
“apa? Hyeri.? Hyeri itu hyeri itu tunangan, tunanganmu?” dengan tak percaya bomi langsung berdiri dan berjalan untuk pulang.
“bomi-ya kau mau kemana?”
Bomi menahan tangis. “aku… mau pulang.”
“bomi-ya tunggu.” Baro menarik tangan bomi.
“lepaskan tanganku baro-ya.”
“tidak aku tak akan melepaskan tangnmu. Kumohon jangan pergi.” Tiba tiba baro memeluk bomi.
“lepaskan aku, sekarang kau bukan milikku seutuhnya,”
“tapi kau tetap sahabat terbaikku,”
“ne, aku sahabat terbaikmu. Gomawo baro-ya. Kumohon lepaskan aku.” Bomi menangis di pundak baro dan memaksa baro untuk melepaskan pelukannya.
Gomawo baro-ya selama ini kau yang selalu mengisi hari hariku, mungkin jika aku mengetahui hal inii aku tak akan membuang buang waktuku saat bersammamu, namun semua telah terlambat, sekarang kau memiliki pendamping yang selalu menemanimu kapan saja, yah hyeri . sekarang kau tak perlu membutuhkanku lagi. Air mata bomi terus mengalir dan tak bisa di tahan, betapa hancurnya hati bomi saat menetahui bahwa hyeri itu tunangan baro, seperti ada pisau tajam yang menusuk nusuk hatinya
***
Sudah hampir 1 bulan baro tak bermain dengan bomi, dan itu membuat bomi merasa kehilangan baro,
“baro-ya! Apa kau tau? Aku sangat merindukan kehadiranmu. Aku merindukan tawamu dan aku merindukan kau ada disampingku.” Perlahan air mata bomi jatuh membasahi pipinya, bomi melihat keluar kamar, dan ia mendapati baro sedang melihat kearah kamar bomi
“Bomi-ya!” baro memanggil bomi dari seberang. Bomi hanya tersenyum. “keluarlah temani aku.”
“ne.. mengapa kau belum tidur?”
“aku tak bisa tidur, dan rasanya aku ingin sekali memandang langit.”
“oh,”
“lalu mengapa kau sendiri belum tidur?”
“aku.. aku .. aku juga tak bisa tidur.”
“wah kita sehati bomi-ya! Sudah lama sekali kita tak bertemu.”
“belum lama kok, 1 bulan aja belum.”
“aish kau ini tega sekali! Apa kau tak merindukanku?” Teriak  baro.
“hahah. Aku .. buat apa aku merindukanmu.”
“dasar! Mengapa kau tega sekali mengatakan itu padaku! Apa kau tak mengerti bahwa aku sangat merindukanmu bomi-ya!”
“merindukanku?” sebenarnya aku juga sangat merindukanmu Baro-ya tapi aku tak mungkin mengatakn hal itu. “untuk apa kau merindukanku? Bukannya kau sudah memiliki hyeri. Kurasa kau tak pantas merindukanku baro-ya!” bomi tersenyum miris. Baro hanya terdiam baro mengerti perasaan bomi.
“bomi-ya! Lihatlah ada bintang jatuh.”  Baro menunjuk bintang yang sedang jatuh yang letaknya tepat berada ditengah tengah antara rumah baro dan bomi.
“kajja minta 1 permintaan.” Baro langsung menutup matanya, dan bomi mengikuti apa yang baro lakukan.
Tuhan, aku hanya ingin satu permintaan padamu, kumohon satukanlah kembali aku dengan bomi. Jujur aku merasa sangat kehilangannya, dan kurasa aku mencintainya, kumohon tuhan beritahu padanya bahwa aku sangat menginginkan dia sebagai pendamping hidupku kelak.
Tuhan jika memang ini jalanmu untuk memisahkan aku dengan baro, aku mencoba untuk bisa menerima semuanya, tapi tuhan jika kau menuruhku untuk melupakan baro dan membuang perasaan ini aku sungguh tak sanggup. Aku bahagia jika melihat baro tersenyum meskipun bukan aku yang mengukir senyum indah diwajah baro. Jadi kumohon tuhan bantu aku untuk menjaga perasaanku ini.
Baro dan bomi membuka matanya bersamaan.
“bomi-ya apa yang kau minta?”
“ahh aku, hanya meminta perlindungan saja. Kau sendiri?”
“aku hanya ingin meminta keadilan.”
“keadilan?”
“yah, keadilan tentang perasaanku.”
“ohh… geureh baro-ya! Aku mau tidur ne.”
“ne tidurlah bomi-ya dan mimpi indahlah.”
“ne kau juga, jaljjayeo baro-ya.” Baro mengangguk dan tersenyum. Bomi pun masuk kedalam.
Aku percaya kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku bomi-ya.
***
Satu minggu lagi acara pertunangan antara baro dan hyeri akan dilaksanakan. Bomi semakin terpukul karena  hyeri meminta bomi untuk mengatur semua acara mereka, dengan alasan karena bomi adalah sahabat baik baro. Dan hari ini hyeri mengajak bomi untuk membeli cincin pertunangannya dengan baro dan memilih milih gaun yang akan dipakenya diacara pertunangan nanti.
Mobil baro dan hyeri datang ke kampus bomi untuk menjemput bomi
“bomi-ya ayo antarkan aku dengan oppa membeli cincin.”
“ha?” bomi terkejut atas ajakan hyeri.
“kau sudah tak ada kelas kan?”
“em, iya. Tapi.”
“sudahlah ayo ikutlah dengan kami, jeball.”
“em geureh aku akan ikut dengan kalian. Akhirnya bomi membuka pintu mobil.
Hati bomi sngat sakit karena melihat tingkah hyeri yang dilakukan pada baro,sahabat kecilnya yang mampu membuat dirinya merasakan apa itu cinta.
Tuhan kumohon kuatkanlah hatiku menghadapi semua ini, aku senang melihat baro tersenyum, kumohon jangan turunkan airmata ini, mata bomi mulai berkaca-kaca. Baro yang mengetahui hal itu hanya diam saja, baro mengerti perasaan bomi,
Mianhaeyo bomi-ya aku sebenarnya tak mau melakukan sandiwara ini. Tapi aku yakin kau kuat menghadapinya, karena kau bomi kecilku yang selalu kuat menghadapi sesuatu, meskipun ini membuat dirimu terluka, kumohon jangan menangis, tahan lah airmatamu itu, karena saat ini aku tak mampu menghapusnya.
Baro sesekali melihat bomi melalui  kaca. Dan baro melihat bomi hampir menangis.
***
“oppa kau suka yang mana?” hyei menunjuk beberapa model cincin,
“terserah kau saja,”
“hah bomi-ya! Apa menurutmu yang ini bagus?”
“ah ne ini sangat bagus.”
“oppa apa menurutmu ini bagus.”
“ne itu bagus,”
“geureh kita ambil yang ini ya.”
“….” Baro terus memperhatikan bomi, ada sedikit kekecewaan yang tergambar diwajahnya.
Setelah selesai memilih cincin kini mereka harus memilih gaun untuk baro dan hyeri. Selesai memilih gaun hyeri mengaja bomi untuk makan, sekaligus mengucapkan terimakasuh karena bomi mau menemaninya hari ini.
“bomi-ya gomawo ne, hari ini kau telah menemaniku dan oppa.”
“eh, ne cheonma..” bomi hanya tersenyum tipis.
“oh iya.., ceritakan dong pengalam menarik kalian dulu sewaktu kecil.”
“hahah tidak perlu diceritakan kurasa kami sudah melupakannya” kata bomi sambil sesekali melihat kearah baro.
Akhirnya mereka memutuskan untung mendengar cerita hyeri dengan baro sehingga mereka bisa dijodohkan. Dan itu membuat hati bomi semakin rapuh.
***
Bomi datang ke Babo Castile, malam ini. Hati semakin terasa sakit karena 2 hari lagi baro aka bertunangan dengan hyeri.
“baro-ya aku akui aku tidak hanya  membutuhkan kehadiranmu disampingku, tapi aku juga membutuhkan cintamu. Aku baru sadar jika aku benar-benar mencintaimu.” Bomi meneteskan airmatanya,
“mungkin aku terlalu munafik untuk mengatakan perasaan ini padamu, tapi aku benar benar tak bisa menahan semua ini, hiks.. jika kau bertanya apakah aku kehilanganmu, atau apakah aku merindukanmu, atau bahkan kau betanya apakah aku mencintaimu, aku akan menjawab IYA.!”
Bomi menangi s tanpa henti, “Kumohon hentikanlah waktu, aku tak ingin acara pertunangan itu dilaksanakan. Arghhhhhh!!” Bomi meringkukan dirinya dibawah pohon, air matanya terus mengalir sehingga membuat mata bomi terlihat bengkak.
Tap… Tap.. Tap…
Bomi mendengar suara orang berjalan yang mendekat kearahnya, bomi takut tak berani melihat siapa yang datang, tiba tiba orang itu memeluk bomi, bomi terkejut dia melihat wajah baro tepat berada diatas kepala bomi.
“baro-ya!”
“ne bomi-ya sahabat ku, ini aku sahabatmu.”
“hem, untuk apa kau kesini? Bukannya kau harus siap siap untuk acara pert…” perkataan bomi di hentikan oleh baro.
“sssttt sudahlah, lupakan saja acara pertunangn itu. Dan saat ini aku hanya ingin bersamamu  bomi-ya! Aku hanya  ingin menghabiskan hari-hariku hanya bersamamu.”
“tapi hyeri adalah tunanganmu. Untuk apa kau memikirkanku?”
“iya, hyeri memang tunangan aku, tapi dia bukan yeoja yang aku cinta. Jujur bomi-ya kau merasakan apa yang kurasakan? Katakanlah kau juga merasa kehilangan ku dan katakanlah jika kau mencintaiku. Katakanlah bomi-ya!” baro menatap bomi tajam, matanya sudah berkaca-kaca, dan airmatanya mulai menetes.
“tidak, kau salah baro-ya, aku sama sekali tak merasa bahwa aku kehilanganmu, dan mencintaimu? Aku tak merasakan perasaan itu.” Bomi berusaha berbohong menutupi perasaannya, dan ia menahan tangis.
“hah? Kau bilang kau tak kehilanganku dan kau tak mencintaiku? Omong kosong, untuk apa kau berbohong padaku? Aku tak bisa kau bohongi bomi-ya. Aku ini sahabatmu aku tau semua tentangmu.”
Bomi langsung berdir di ikuti baro, “iya. Aku memang kehilanganmu baro-ya, dan aku juga mencintaimu, tapi aku tak pantas memilikimu, aku ini bukan jodohmu, aku ini hanya sahabatmu.!!”
“kau memang sahabatku, tapi apakah aku salah jika aku menjadikanmu sebagai yeoja yang kucinta, apa aku salah jika aku mencintai sahabatku sendiri.”
“kau sangat salah baro-ya, kau salah jika  kau mencintaiku, aku ini bukan pasanganmu, aku hanya sekedar sahabatmu, kau berhak dimilik yeoja lain selain aku.!”
“tapi aku hanya ingin memilikimu, dan aku yakin kau ini pasangan hidupku!”
“enggak! Aku bukan pasangan hidupmu, pasanganmu adalah hyeri! Pulanglah baro-ya, temuilah hyeri. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.”
“tapi aku tidak bisa bahagia. Aku ingin bersamamu, untuk apa aku melangsungkan pertunangan ini jika aku tak mencintai hyeri? Kumohon percayalah padaku, bahkan jika kau ingin aku untuk memmbatalkan pertunangan ini, aku akan lakukan.”
“andwae!! Pertunanganmu dengan hyeri tak boleh dibatalkan. Aku yakin hyeri yeoja yang baik untukmu.”
“tidak! Aku akan tetap membatalkan pertunangan ini, kau ini pasanganku bomi-ya!”
“jangan.!! Baiklah jika kau memaksa! Kita mengadakan taruhan saja,”
“taruhan?”
“iya taruhan, jika malam ini ada bintang jatuh, berarti itu meanandakan bahwa kau dan aku memang ditakdirkan untuk bersama dan kau berhak membatalkan pertunangan itu , tapi jika malam ini tak ada satupun bintang yang jatuh biarlah aku merelakanmu untuk bertunangan dengan hyeri. Bagaimana? Apa kau siap?”
“tapi ini tak adil.”
“kita serahkan saja pada tuhan, kita tunggu sampai fajar tiba.”
Akhirnya baro dan bomi, tiduran sambil memandang langit, menunggu bintang jatuh.
“apa kau yakin bomi-ya?” baro meneteskan air  mata, begitu juga bomi.
“aku akan siap menrima semua keputusan ini,”
 Baro melihat jam tangan begitu juga bomi, hari sudah mulai fajar, tapi tak ada satupun bintang yang jatuh, itu tandanya baro tetap melangsungkan pertunangannya bersama hyeri. Baro menangis, sebenarnya ia tak mau menerima kenyataan.
“baro-ya sekarang sudah jelas, bintang tak ada satupu yang jatuh, pergilah temui hyeri.” Kata bomi sambil membelakangi baro, dan tak ingin melihat baro, tapi tiba tiba baro memeluk bomi, sambil menangis.
“bomi-ya aku akan tetap mencintaimu,… aku aku tak ingin seperti ini,” air mata baro mengalir deras.
“sudahlah baro-ya, aku ini tetap sahabatmi, jika kau membutuhkanku datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu.” Tangis bomi membasahi baju baro. Bomi melepaskan pelukan baro,
“biarkan BABO CASTILE ini menjadi saksi cinta kita berdua, di BABO CASTILE ini banyak mengukir kenangan tentang kita, baro-ya. Jika suatu saat kau merindukanku, datanglah kesini, karena jiwaku akan selalu ada di Babo Castile ini.”
“ne, begitupun kau  bomi-ya. Aku akan selalu menjaga Babo Castile ini, karena disinilah kita bisa merasakan jatuh cinta.”
“hem ne. pulanglah baro-ya! Temuilah hyeri peluklah dia dan katakana bahwa kau sangat mencintainya.” Bomi mengusap air matanya dan meninggalkan baro.
“bomi-ya!” baro berteriak. “ Saranghae”
Bomi hanya membalas dengan senyuman dan menengok ke arah baro,
“nado saranghae baro-ya” kata bomi lirih sambil berjalan meninggalkan baro.
***
Hari ini hari pertunangan baro dan hyeri, bomi melihat betapa sibuknya orang-orang yang ada dirumah baro. Acaranya akan diadakan nanti malam.
“baro-ya selamat.” Bomi tersenyum miris dan matanya sudah berkaca-kaca. Baro yang keluar dari rumahnya bersama hyeri melihat keberadaan bomi,
“oppa, gwaenchanayo?” hyeri melihat kearah kamar bomi.
“oh ne.”
“kajja oppa.” Hyeri menggandeng baro.
***
Malam harinya bomi bersiap datang keacara pertunangan baro, di depan bomi melihat baro dan hyeri sudah di rias dan baro terlihat begitu tampan,
Baro-ya aku yakin ini keputusan yang tepat.
Baro mencari cari keberadaan bomi,
Bomi-ya apa kau tak ingin  datang melihat ini. Baro merasa khawatir.
“oppa, apa kau mencari bomi?” Tanya hyeri tiba-tiba.
“ah ne, aku mencarinya,”
“jangan khawatir aku yakin bomi pasti akan datang. Nah lihatlah itu oppa, itu bomi sudah ada disana.”
Hyeri menunjuk kearah bomi, baro hanya tersenyum tipis, dan kini pandangannya hanya tertuju pada bomi,
Acara tukar cincin pun sudah dimulai, tiba tiba disaat hyeri akan memasukan cincinnya kejari baro geraknya terhenti, sesekali ia melihat kearah bomi dan baro.
“waeyo sayang?” Tanya eomma baro, semua tamu terheran atas tindakan hyeri.
“ha! Apa yang yeoja itu lakukan?” Tanya salah seorang tamu undangan.
Hyeri jalan menuju dimana bomi berdiri, semua orang terkejut karena tindakan hyeri ini, kedua orang tua hyeri dan baro bingung. Apa yang di lakukan oleh hyeri pada yeoja itu? Pertanyaan itu kini terbesit didalam hati masing masing tamu.
“bomi-ya!” hyeri memulai pembicaraan matanya mulai berkaca-kaca. “aku akan memberikan cincin ini untukmu, sekarang masukanlah cincin ini ke jari oppa.” Hyeri menyerahkan cincinya ke bomi, bomi bingung dengan maksud hyeri, baro hanya terdiam melihat yeoja yang sangat dia cintai dan yeoja yang akan menjadi calon istrinya nanti.
“apa maksud mu hyeri-ah?”
“kumohon masukanlah, jangan kau menyimpan perasaanmu pada oppa lebih dalam,”
“tapi ini acaramu, aku tak mau melakukannya.”
“tenanglah bomi-ya aku sudah tau semua,”
“bagaimana kau bisa tau?” kata bomi penasaran.
“kemarin, Saat aku membereskan kamar oppa, aku melihat foto oppa bersama mu, dan awalnya aku anggap kalian hanya sahabat yang saling menyanyangi, dan kalian tak mempunyai perasaan satu sama lain, tapi disaat aku membuka bagian belakang salah satu foto itu, aku melihat puisi yang oppa tulis dan itu untukmu.
Dear my lovely friend Bomi.
Dalam gelapnya malam aku mencoba mencarimu, apa kau tau aku terjebak oleh gumpalan awan hitam yang mencoba membawaku jauh darimu.
Dalam gelapnya malam yang dihiasi beribu bintang, aku mencoba melihatmu namun tak kutemukan sosok dirimu,
Benarkah kau meninggalkanku? Dan meninggalkan cintamu dalam hatiku?
Aku hanya ingin mempersembahkan cintaku padamu,
Tahukah engkau? Aku sangat kehilanganmu,
Kehilangan sosok seorang sahabat sekaligus pengisi hatiku,
Aku memang salah karena aku baru menyadarinya jika aku mencintaimu,
Meskipun aku sudah bersama yeoja lain,
Aku ingin kau mengetahui satu hal saja,
Bahwa aku tak bisa membuang rasa cintaku ini sampai kapanpun.
Saranghae bomi-ya Jeongmal saranghae.
“ sekarang kau tak perlu lagi bohong pada perasaanmu sendiri, aku tau ini sangat menyakitkan, tapi untuk  apa aku bersama dengan seorang namja yang sama sekali tak mencintaiku, tapi ia mencintai orang lain”
Hyeri meneteskan air matanya, dan baro berjalan mnuju mereka berdua, dilihatnya wajah baro lekat lekat oleh bomi.
“tapi hyeri-ah!”  kata bomi bingung, dan kini bomi yang menegeluarkan airmatanya, hyeri memeluk bomi.
“aku percaya padamu bomi-ya. Hanya kau atu-satunya yeoja yang bisa membuat oppa bahagia, dan oppa hanya mencintai kau bomi-ya.”
Bomi menangis dalam pelukan hyeri, begitupun hyeri,
“aku tak percaya kau akan melakukan hal ini hyeri-ah. Aku piker kau akan marah dan menghukumku.”
“iya aku akan menghukum mu dengan cara bahagiakan oppa bomi-ya! Jika kau melukai hatinya aku akan bersumpah untuk menjadikan oppa suamiku.”
Baro tersenyum melihat semua ini,
“aku janji hyeri-ah , aku akan menjaga oppa mu ini.” Hyeri menghapus air mata bomi.
“ne.. aku percaya padamu.”
Semua orang takjub melihat kejaian ini, Eomma baro meneteskan airmata dan kini diinya merasa bersalah.
“mianhaeto sayangku, selama ini eomma tak mengerti perasaanmu, eomma terus memaksamu untung bertunangan dengan hyeri-ah, tapi sekarang hyeri-ah yang melepaskanmu dan membiarkanmu bersama bomi yeoja yang selama ini menjadi sahabatmu sekaligus yeoja yang telah membuatmu jatuh inta.” Eomma menangis dalam pelukan baro.
“ne Eomma, aku mengerti perasaan eomma, aku juga minta maaf sama eomma, jika selama ini aku tak mengatakan pada eomma bahwa aku mencintai bomi.” Baro memeluk erat Eommanya, setelah itu baro mengajak bomi kedepan untuk menyelesaikan acara ini, hyeri tersenyum lega melihat barp dan bomi bahagia.
Aku yakin oppa bersama bomi kau akan merasakan cinta yang sesungguhnya, dan aku aku hanya yeodongsaengmu oppa.
Acarapun teus dilanjutkan. Bomi memasukan cincin itu kejari baro begitupun sebaliknya baro memasukan cincin kejari bomi, mereka tersenyum dan melihat kearah hyeri, hyeri membalas senyuman mereka dan memberikan jempol pada baro dan bomi,
Baro memeluk bomi dengan erat
Aku percaya bahwa kau dan aku ditakdirkan untuk bersama, karena aku yakin kau adalah pasangan hidupku
 Terimakasih tuhan kini aku bisa memiliki  seutuhya namja yang aku cintai, gomawo hyeri-ah aku akan selalu mengingatmu dan aku berharap kau akan menemukan namja yang lebih baik dari baro, dankdia mencintaimu apa adanya.
bomi-ya apa besok kau ada jadwal?”
“aish kau ini. Besok aku mesih harus kuliah.”
“geureh besoka akan kuantar kau menggunakan sepeda yang telah kuhias sendiri,”
“maksudmu.”
“sudahlah diam besok kau akan tau.”
Baro tersenyum kearah bomi, dan kedua orang tua baro baru sadar jika cinta itu memang tak bisa di paksakan.
***
Kring..kring,..kring… suara bel sepeda baro,
“bomi-ya! Palli nanti kita terlambat.”
“aduh aduh, baro mengapa kamu menggunakan sepeda yang penuh dengan hiasan ini?” Tanya Eomma bomi heran melihat baro.
“ah, ahjuma, lihatlah nanti aku akan membawa bomi jalan jalan mengelilingi kota seoul menggunakan sepeda ini.”
“mwo? Menggunakan sepeda kau ini ada-ada saja.” Eomma bomi masuk kedalam rumah.
“Eomma aku berangkat ya,”
“kau tak sarapan dulu?”
“tak usah aku sudah memakan satu buah roti.”
“cepatlah baro sudah menunggumu didepan, dia sangat tampan.” Eomma bomi mencoba menggoda.
“aish eomma ini ada ada saja. Geure akuberangkat eomma dah.” Bomi melambaikan tangannya.
Saat bomi keluar bomi terkejut melihat dandanan baro dan sepeda miliknaya.
“aigooo!!!!! Baro-ya apa yang kau lakukan?”

“silahkan my princes pangeran sudah menggumu dari tadi.”

hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
Baro mengulurkan tanganya dan menuntun bomi menaiki sepeda miliknya.
“apa kau siap tuan putri??” Tanya baro semangat.
“ayooooooo!!!!!!”
Akhirnya kini aku mengerti bahwa cinta itu tak
END













jrjr.jpg

|| Title  : Fallin In Love With a Friend  || Author  : K.EL GD ||
 Main Cast :, Baro [ B1A4 ],  Bomi [ A-pink ], Hyeri [G D ] ||
Leight : One Shoot ||
Genre  : Romantic ||

*perhatikan tulisan yang miring [ ungkapan dalam hati all cast ]




Summer: Masih adakah waktu untukku mengatakan bahwa aku tidak hanya sekedar membutuhkanmu, tapi aku juga mencintaimu.

***
Bomi tergesa gesa berangkat dia langsung mengambil roti tawar yang telah di siapkan Eomma.
“Eomma. Bomi berangkat yah.. dah..” teriak bomi sambil memakai sepatu.
“sayang, apa kamu tak sarapan dulu?” Eomma membalas teriak dai dapur.
“ngga usah. Ma udah telat nih… aku berangkat yah, dah!!.”
Brakk, bomi membanting pintu tak sengaja, “Ups, mianhae eomma,” bomi keluar rumah dan mendapati baro didepan rumahnya. Karena rumah baro tepat berada didepan rumah bomi.
“bomi-ya! Palli! Mengapa kau terlambat 1 menit?”
“mianhae baro-ya! Mengapa kau sangat perhitungan sekali?”
“kau tau kata pepatahkan bahwa waktu itu adalah uang.”
“aisshh, sudahlah jangan bersastrawan di depanku. Mana helmku?”
“ini.”
Wusshhhhh... grengggggg… grengggggg. Baro pun menggas motornya.
***
“haa… syukurlah kita belum terlambat.” Kata baro lega.
Bomi cengengesan. “Heeheheheh mianhaeyo. Baro-ya! Ternyata jadwalnya masih satu jam lagi.”
“aigoo! Bomi-ya mengapa kau pabo sekali!” Baro menjitak kepala Bomi. Bomi hanya meringis kesakitan.
“awww.! Sakit tau! Hehheheh”
“dasar yeoja pabo.! mengapa bisa begitu?”
“mianhae, aku salah melihat jadwal tadi.” Bomi menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“geureh kalo begitu aku mau kekampusku dulu.”
“yah, secepat itu memangnya kau harus meninggalkanku.”
“hahahah, bomi-ya kau ini lucu sekali. Bukannya setiap hari kita melakukan ritual ini?”
“emm, yah…” bomi gugup.
“atau kau sedang merindukanku saat ini?” Tanya baro menggoda, sehingga membuat rona merah dipipi bomi terlihat.
“aishh ani, pede  sekali kau! Ya sudah pergi sana! Palli pali!”
“hahahah ne, ne aku akan pergi.” Baro langsung menstater motornya.
Bremm… breemmmm…
“geureh, aku akan berangkat dulu ne. bomi-ya kau jangan merindukanku terus.”
“tidak akan. Huft.”
“ne..ne.. oh ya, nanti jika kau sudah pulang telfon aku ya, aku akan menjemputmu..bye bye..” baro melajukan motornya
“bye..” Bomi melambaikan tangannya, “aku memang selalu merindukanmu baro-ya.” Tanpa sadar bomi mengatakn hal itu, dan dia tersenyum sendiri karena merasa aneh dengan perkataannya.
***
Seperti biasanya Baro dan bomi datang ke sebuah tempat yang diberi nama “BABO Castile” dan seperti biasanya mereka memainkan jungkat jungkit sambil bercerita, entah tentang masalah dikampus, masalah keluarga atau masalah lainnya. Tapi dari dulu keduanya sama sekali belum bercerita tentang kekasih mereka masing-masing.
“bomi-ya. Apa kau sudah tau tentang Negara kita?”
“memangnya Negara kita ini kenapa?”
“banyak orangkan?”
“ah! Kau ini bodoh atau hanya pura-pura. Memanglah di Negara kita ini banyak orang.”
“tapi apakah kau tau? Aku selalu merasa di Negara hanya ada kau dan aku.”  Perkataan baro cukup membuat bomi terkejut.
“mwo? Memangnya kau anggap apa mereka semua?”
“entahlah tapi memang itu yang kurasakan bomi-ya. Apa kau merasakan hal yang sama sepertiku?”
Aish mengapa baro membuat jantungku berdegup kencang? Apa yang dia katakan sehingga membuatku mati gaya seperti ini?
“ya!! Bomi-ya. Kau mendengarkan aku tidak?”
Disaat mereka sedang bercerita tiba tiba ada seorang yeoja yang memanggil baro.
“Baro-ya!!”
“aih? Siapa dia? Apa kau mengenalnya?” Tanya bomi curiga.
“Em,, nanti kujelaskan.” Baro langsung berdiri, dan ia lupa kalo dirinya sedang bermain jungkat jungkit bersama bomi.
*brakk
“aww. Napeun!.” bomi terkejut.
“mianhae.”
“anyeong..” sapa yeoja itu ramah.
Bomi langsung beridiri disamping baro sambil menundukan kepala, “anyeong..”
“Hyeri imnida. “ yeoja itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya. Bomi pun membalas uluran tangan hyeri. “Bomi imnida.”
“hyeri-ah jam berapa kau menuju kesini?”
“hah, baru tadi oppa, dan ahjumma menyuruhku untuk menjemputmu.”
“mengapa kau mau? Apa kau tak lelah karena perjalananmu menuju kemari?”
“ani.. karena aku sangat merindukanmu oppa.” Tiba tiba hyeri memeluk baro. Baro pun trkejut dan langsung melihat kearah bomi. Bomi hanya tersenyum.
Aigo beraninya dia memeluk baro? Siapa yoeja ini, aishh mengapa aku marah jika hyeri memeluk baro. Memangnya aku dan baro berpacaran?
“oppa, ayo kita pulang.”
“em ne, bomi-ya aku mau pulang dulu.” Bomi masih melamun. “bomi-ya!” bomi terkejut karena teriakan baro.
“em, ne ada apa?”
“aish kau ini. Aku mau pulang dulu dengan hyeri apa kau mau ikut?.”
“ne, silahkan saja. Aku nanti bisa pulang sendiri.”
“gwaenchanayo?” baro khawatir dengan bomi.
“ne. aku akan baik-baik saja. Pulanglah.” Dengan senyuman bomi melepas baro pulang.
“gomawo, kami pulang dulu ya” kata hyeri ceria.
“bye” baro melambaikan tangannya. Bomi pun membalas lambaian tangan baro dan hyeri. Seketika baro langsung hilang dari pandangan bomi. “baro-ya kajjima!” tanpa sadar bomi mengatakan itu.
Mengapa rasanya aku tak rela jika ada yeoja lain yang dekat dengan baro? Dan aku tak ingin kau pergi baro-ya.
“aish pabo!!” tiba tiba bomi memukul mukul kepalanya sendiri. “mengapa kau memikirkannya? Apa dia itu kekasihmu dia hanya sahabatmu!” bomi kesal pada dirinya sendiri. Akhirnya bomi memutuskan untuk pulang.
***
Diruang makan, keluarga Cha ( Keluarga  Baro ) dengan keluarga Kim ( Keluarga Hyeri) sedang membicarakan pengalaman mereka.
“hah, baro kau tak keberatan kan  jika hyeri ini masuk di universitasmu.” Kata eomma baro tiba tiba dan itu membuat baro terkejut.
“iya baro-ya! Kami sudah sepakat untuk memasukan hyeri ke universitasmu.”
“mwo? Eomma tidak sedang bercandakan?”
“iya sayang, dan lagi pula hyeri sudah diterima kok, dia sudah mendaftar beberapa bulan yang lalu.”
“tapii. Eomma..”
“waeyo sayang? Bagaimana dengan bomi?”
“itu urusanmu, bicara baik baik dengan bomi sayang.”
“ya! Oppa asik aku sekampus denganmu,” kata hyeri senang. “nanti kita pasti berangkat bersama,”
Baro hanya tersenyum. Bomi-ya bagaimana ini? Aku aku bingung pa yang harus kukatakan padamu nanti.
Selesai makan hyeri mengajak baro untuk duduk diteras kamar baro yang terletak dilantai 2. Dan saat itu bomi juga ada di teras kamarnya yang berada dilantai 2 juga, jadi kamar baro dan bomi saling berhadapan.  Baro membuka pintu dan melihat bomi diseberang.
Bomi-ya entah mengapa aku sangat merindukanmu.
Baro-ya apa kau mengerti perasaanku? Aku sangat merindukanmu
“oppa.” Hyeri membuyarkan lamunan baro, dan ketika bomi melihat hyeri bersama baro bomi langsung masuk dan menutup pintunya.
“oh, ne oppa sedang apa?”
“ah tidak aku hanya memandang langit.”
“memangnya dilangit ada apa?”
“ada bintang bulan.” Kata baro garing.
“ah oppa, ini aku bawakan air.” Hyeri menyodorkan satu gelas air.
“gomawo.” Kata baro singkat.
“oppa, siapa yeoja yang tadi bersamamu?”
“dia sahabatku. Wae?”
“ani.”
Oppa aku sangat mencintaimu, dan aku tak ingin ada satupun yeoja yang dekat denganmu, tapi dia sahabtmu, bagaimna mungkin aku bisa memisahkan kalian.
***
Seperti biasa bomi menunggu baro keluar dari rumahnya. 10 menit pun berlalu.
“aish kau kemana sih?” karena bomi sudah tak sabar menunggu baro, akhrinya bomi masuk kerumah baro.
“permisi.” Bomi menekan bel rumah baro.
*krek suara pintu diuka ole eomma baro.
“anyeong ahjuma. Apa baro ada?”
“ha, baro kan sudah berangkat bersama hyeri.”
“sudah berangkat bersama hyeri.”
“ne.. apa kau belum diberitahu oleh baro? Sekarang baro dan hyeri satu universitas, jadi baro akan berangkat bersama hyeri setiap hari.”
“oh, ne eomma gomawo.” Dengan perasaan yang hancur bomi keluar dari     rumah baro dan ia memutuskan untuk jalan kaki untuk berangkat kekampusnya.
Dalam perjalan menuju kampus bomi terus bertanya Tanya.
Baro-ya mengapa kau tega biarkan aku seperti ini demi yeoja itu? Apa kau sudah lupa dengan sahabatmu ini? Hah ?  Tak terasa tiba tiba bomi meneteskan airmatanya. 
Dikampus baro terus memikirkan keadaan bomi.
Bomi-ya mianhaeyo. Aku tak bermaksud meninggalkanmu. Tapi keadaan ini sangat mendadak, jeongmal mianhaeyo bomi-ya.
Baro mengirimkan peesan pada bomi untuk meminta maaf karena pagi ini dan sorenya ia tak dapat menjemput bomi, tapi tak ada satupun pesan yang dibalas bomi dan keika baro menelefon bomi, tapi bomi tak menjawabnya. Baro semakin gelisah. Baro mencoba mengubungi bomi lagi
Bomi-ya gwaenchanyayo? Kau jangan membuatku khawatir. Kumohon angkatlah telefonmu
“oppa? Gwaenchanhayo? Kau sedang menelefon siapa sih?”
“aku baik saja, dan aku sednag menelefon temanku tapi dia tak mengangkatnya.”
“maksudmu bomi?” baro hanya mengangguk.
***
Baro melihat bomi menangis di Babo Castil,
“bomi-ya gwaenchanayo? Hey mengapa kau menangis?” bomi tak menghiraukan kedatangan baro.
“bomi-ya ceritalah padaku.”
“Napeun!!!”
“waeyo?”
“hem!!” bomi tersenyum sinis sambil menahan airmatanya.
“mianhaeyo bomi-ya jeongmal mianhae.”
“ne aku mengerti kok, kau lebih sayang pada hyeri dari pada aku.
“mian sebelumnya aku belum bicara bahwa aku dan hyeri satu kampus.”
“sudahlah lupakan saja, aku mengerti kok,”
“bomi-ya aku mau mengatakn sesuatu padamu.”
“katakan saja.”
“aku mau memberitahumu siapa hyeri.”
“… “
“hyeri itu tunanganku.”
“apa? Hyeri.? Hyeri itu hyeri itu tunangan, tunanganmu?” dengan tak percaya bomi langsung berdiri dan berjalan untuk pulang.
“bomi-ya kau mau kemana?”
Bomi menahan tangis. “aku… mau pulang.”
“bomi-ya tunggu.” Baro menarik tangan bomi.
“lepaskan tanganku baro-ya.”
“tidak aku tak akan melepaskan tangnmu. Kumohon jangan pergi.” Tiba tiba baro memeluk bomi.
“lepaskan aku, sekarang kau bukan milikku seutuhnya,”
“tapi kau tetap sahabat terbaikku,”
“ne, aku sahabat terbaikmu. Gomawo baro-ya. Kumohon lepaskan aku.” Bomi menangis di pundak baro dan memaksa baro untuk melepaskan pelukannya.
Gomawo baro-ya selama ini kau yang selalu mengisi hari hariku, mungkin jika aku mengetahui hal inii aku tak akan membuang buang waktuku saat bersammamu, namun semua telah terlambat, sekarang kau memiliki pendamping yang selalu menemanimu kapan saja, yah hyeri . sekarang kau tak perlu membutuhkanku lagi. Air mata bomi terus mengalir dan tak bisa di tahan, betapa hancurnya hati bomi saat menetahui bahwa hyeri itu tunangan baro, seperti ada pisau tajam yang menusuk nusuk hatinya
***
Sudah hampir 1 bulan baro tak bermain dengan bomi, dan itu membuat bomi merasa kehilangan baro,
“baro-ya! Apa kau tau? Aku sangat merindukan kehadiranmu. Aku merindukan tawamu dan aku merindukan kau ada disampingku.” Perlahan air mata bomi jatuh membasahi pipinya, bomi melihat keluar kamar, dan ia mendapati baro sedang melihat kearah kamar bomi
“Bomi-ya!” baro memanggil bomi dari seberang. Bomi hanya tersenyum. “keluarlah temani aku.”
“ne.. mengapa kau belum tidur?”
“aku tak bisa tidur, dan rasanya aku ingin sekali memandang langit.”
“oh,”
“lalu mengapa kau sendiri belum tidur?”
“aku.. aku .. aku juga tak bisa tidur.”
“wah kita sehati bomi-ya! Sudah lama sekali kita tak bertemu.”
“belum lama kok, 1 bulan aja belum.”
“aish kau ini tega sekali! Apa kau tak merindukanku?” Teriak  baro.
“hahah. Aku .. buat apa aku merindukanmu.”
“dasar! Mengapa kau tega sekali mengatakan itu padaku! Apa kau tak mengerti bahwa aku sangat merindukanmu bomi-ya!”
“merindukanku?” sebenarnya aku juga sangat merindukanmu Baro-ya tapi aku tak mungkin mengatakn hal itu. “untuk apa kau merindukanku? Bukannya kau sudah memiliki hyeri. Kurasa kau tak pantas merindukanku baro-ya!” bomi tersenyum miris. Baro hanya terdiam baro mengerti perasaan bomi.
“bomi-ya! Lihatlah ada bintang jatuh.”  Baro menunjuk bintang yang sedang jatuh yang letaknya tepat berada ditengah tengah antara rumah baro dan bomi.
“kajja minta 1 permintaan.” Baro langsung menutup matanya, dan bomi mengikuti apa yang baro lakukan.
Tuhan, aku hanya ingin satu permintaan padamu, kumohon satukanlah kembali aku dengan bomi. Jujur aku merasa sangat kehilangannya, dan kurasa aku mencintainya, kumohon tuhan beritahu padanya bahwa aku sangat menginginkan dia sebagai pendamping hidupku kelak.
Tuhan jika memang ini jalanmu untuk memisahkan aku dengan baro, aku mencoba untuk bisa menerima semuanya, tapi tuhan jika kau menuruhku untuk melupakan baro dan membuang perasaan ini aku sungguh tak sanggup. Aku bahagia jika melihat baro tersenyum meskipun bukan aku yang mengukir senyum indah diwajah baro. Jadi kumohon tuhan bantu aku untuk menjaga perasaanku ini.
Baro dan bomi membuka matanya bersamaan.
“bomi-ya apa yang kau minta?”
“ahh aku, hanya meminta perlindungan saja. Kau sendiri?”
“aku hanya ingin meminta keadilan.”
“keadilan?”
“yah, keadilan tentang perasaanku.”
“ohh… geureh baro-ya! Aku mau tidur ne.”
“ne tidurlah bomi-ya dan mimpi indahlah.”
“ne kau juga, jaljjayeo baro-ya.” Baro mengangguk dan tersenyum. Bomi pun masuk kedalam.
Aku percaya kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku bomi-ya.
***
Satu minggu lagi acara pertunangan antara baro dan hyeri akan dilaksanakan. Bomi semakin terpukul karena  hyeri meminta bomi untuk mengatur semua acara mereka, dengan alasan karena bomi adalah sahabat baik baro. Dan hari ini hyeri mengajak bomi untuk membeli cincin pertunangannya dengan baro dan memilih milih gaun yang akan dipakenya diacara pertunangan nanti.
Mobil baro dan hyeri datang ke kampus bomi untuk menjemput bomi
“bomi-ya ayo antarkan aku dengan oppa membeli cincin.”
“ha?” bomi terkejut atas ajakan hyeri.
“kau sudah tak ada kelas kan?”
“em, iya. Tapi.”
“sudahlah ayo ikutlah dengan kami, jeball.”
“em geureh aku akan ikut dengan kalian. Akhirnya bomi membuka pintu mobil.
Hati bomi sngat sakit karena melihat tingkah hyeri yang dilakukan pada baro,sahabat kecilnya yang mampu membuat dirinya merasakan apa itu cinta.
Tuhan kumohon kuatkanlah hatiku menghadapi semua ini, aku senang melihat baro tersenyum, kumohon jangan turunkan airmata ini, mata bomi mulai berkaca-kaca. Baro yang mengetahui hal itu hanya diam saja, baro mengerti perasaan bomi,
Mianhaeyo bomi-ya aku sebenarnya tak mau melakukan sandiwara ini. Tapi aku yakin kau kuat menghadapinya, karena kau bomi kecilku yang selalu kuat menghadapi sesuatu, meskipun ini membuat dirimu terluka, kumohon jangan menangis, tahan lah airmatamu itu, karena saat ini aku tak mampu menghapusnya.
Baro sesekali melihat bomi melalui  kaca. Dan baro melihat bomi hampir menangis.
***
“oppa kau suka yang mana?” hyei menunjuk beberapa model cincin,
“terserah kau saja,”
“hah bomi-ya! Apa menurutmu yang ini bagus?”
“ah ne ini sangat bagus.”
“oppa apa menurutmu ini bagus.”
“ne itu bagus,”
“geureh kita ambil yang ini ya.”
“….” Baro terus memperhatikan bomi, ada sedikit kekecewaan yang tergambar diwajahnya.
Setelah selesai memilih cincin kini mereka harus memilih gaun untuk baro dan hyeri. Selesai memilih gaun hyeri mengaja bomi untuk makan, sekaligus mengucapkan terimakasuh karena bomi mau menemaninya hari ini.
“bomi-ya gomawo ne, hari ini kau telah menemaniku dan oppa.”
“eh, ne cheonma..” bomi hanya tersenyum tipis.
“oh iya.., ceritakan dong pengalam menarik kalian dulu sewaktu kecil.”
“hahah tidak perlu diceritakan kurasa kami sudah melupakannya” kata bomi sambil sesekali melihat kearah baro.
Akhirnya mereka memutuskan untung mendengar cerita hyeri dengan baro sehingga mereka bisa dijodohkan. Dan itu membuat hati bomi semakin rapuh.
***
Bomi datang ke Babo Castile, malam ini. Hati semakin terasa sakit karena 2 hari lagi baro aka bertunangan dengan hyeri.
“baro-ya aku akui aku tidak hanya  membutuhkan kehadiranmu disampingku, tapi aku juga membutuhkan cintamu. Aku baru sadar jika aku benar-benar mencintaimu.” Bomi meneteskan airmatanya,
“mungkin aku terlalu munafik untuk mengatakan perasaan ini padamu, tapi aku benar benar tak bisa menahan semua ini, hiks.. jika kau bertanya apakah aku kehilanganmu, atau apakah aku merindukanmu, atau bahkan kau betanya apakah aku mencintaimu, aku akan menjawab IYA.!”
Bomi menangi s tanpa henti, “Kumohon hentikanlah waktu, aku tak ingin acara pertunangan itu dilaksanakan. Arghhhhhh!!” Bomi meringkukan dirinya dibawah pohon, air matanya terus mengalir sehingga membuat mata bomi terlihat bengkak.
Tap… Tap.. Tap…
Bomi mendengar suara orang berjalan yang mendekat kearahnya, bomi takut tak berani melihat siapa yang datang, tiba tiba orang itu memeluk bomi, bomi terkejut dia melihat wajah baro tepat berada diatas kepala bomi.
“baro-ya!”
“ne bomi-ya sahabat ku, ini aku sahabatmu.”
“hem, untuk apa kau kesini? Bukannya kau harus siap siap untuk acara pert…” perkataan bomi di hentikan oleh baro.
“sssttt sudahlah, lupakan saja acara pertunangn itu. Dan saat ini aku hanya ingin bersamamu  bomi-ya! Aku hanya  ingin menghabiskan hari-hariku hanya bersamamu.”
“tapi hyeri adalah tunanganmu. Untuk apa kau memikirkanku?”
“iya, hyeri memang tunangan aku, tapi dia bukan yeoja yang aku cinta. Jujur bomi-ya kau merasakan apa yang kurasakan? Katakanlah kau juga merasa kehilangan ku dan katakanlah jika kau mencintaiku. Katakanlah bomi-ya!” baro menatap bomi tajam, matanya sudah berkaca-kaca, dan airmatanya mulai menetes.
“tidak, kau salah baro-ya, aku sama sekali tak merasa bahwa aku kehilanganmu, dan mencintaimu? Aku tak merasakan perasaan itu.” Bomi berusaha berbohong menutupi perasaannya, dan ia menahan tangis.
“hah? Kau bilang kau tak kehilanganku dan kau tak mencintaiku? Omong kosong, untuk apa kau berbohong padaku? Aku tak bisa kau bohongi bomi-ya. Aku ini sahabatmu aku tau semua tentangmu.”
Bomi langsung berdir di ikuti baro, “iya. Aku memang kehilanganmu baro-ya, dan aku juga mencintaimu, tapi aku tak pantas memilikimu, aku ini bukan jodohmu, aku ini hanya sahabatmu.!!”
“kau memang sahabatku, tapi apakah aku salah jika aku menjadikanmu sebagai yeoja yang kucinta, apa aku salah jika aku mencintai sahabatku sendiri.”
“kau sangat salah baro-ya, kau salah jika  kau mencintaiku, aku ini bukan pasanganmu, aku hanya sekedar sahabatmu, kau berhak dimilik yeoja lain selain aku.!”
“tapi aku hanya ingin memilikimu, dan aku yakin kau ini pasangan hidupku!”
“enggak! Aku bukan pasangan hidupmu, pasanganmu adalah hyeri! Pulanglah baro-ya, temuilah hyeri. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.”
“tapi aku tidak bisa bahagia. Aku ingin bersamamu, untuk apa aku melangsungkan pertunangan ini jika aku tak mencintai hyeri? Kumohon percayalah padaku, bahkan jika kau ingin aku untuk memmbatalkan pertunangan ini, aku akan lakukan.”
“andwae!! Pertunanganmu dengan hyeri tak boleh dibatalkan. Aku yakin hyeri yeoja yang baik untukmu.”
“tidak! Aku akan tetap membatalkan pertunangan ini, kau ini pasanganku bomi-ya!”
“jangan.!! Baiklah jika kau memaksa! Kita mengadakan taruhan saja,”
“taruhan?”
“iya taruhan, jika malam ini ada bintang jatuh, berarti itu meanandakan bahwa kau dan aku memang ditakdirkan untuk bersama dan kau berhak membatalkan pertunangan itu , tapi jika malam ini tak ada satupun bintang yang jatuh biarlah aku merelakanmu untuk bertunangan dengan hyeri. Bagaimana? Apa kau siap?”
“tapi ini tak adil.”
“kita serahkan saja pada tuhan, kita tunggu sampai fajar tiba.”
Akhirnya baro dan bomi, tiduran sambil memandang langit, menunggu bintang jatuh.
“apa kau yakin bomi-ya?” baro meneteskan air  mata, begitu juga bomi.
“aku akan siap menrima semua keputusan ini,”
 Baro melihat jam tangan begitu juga bomi, hari sudah mulai fajar, tapi tak ada satupun bintang yang jatuh, itu tandanya baro tetap melangsungkan pertunangannya bersama hyeri. Baro menangis, sebenarnya ia tak mau menerima kenyataan.
“baro-ya sekarang sudah jelas, bintang tak ada satupu yang jatuh, pergilah temui hyeri.” Kata bomi sambil membelakangi baro, dan tak ingin melihat baro, tapi tiba tiba baro memeluk bomi, sambil menangis.
“bomi-ya aku akan tetap mencintaimu,… aku aku tak ingin seperti ini,” air mata baro mengalir deras.
“sudahlah baro-ya, aku ini tetap sahabatmi, jika kau membutuhkanku datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu.” Tangis bomi membasahi baju baro. Bomi melepaskan pelukan baro,
“biarkan BABO CASTILE ini menjadi saksi cinta kita berdua, di BABO CASTILE ini banyak mengukir kenangan tentang kita, baro-ya. Jika suatu saat kau merindukanku, datanglah kesini, karena jiwaku akan selalu ada di Babo Castile ini.”
“ne, begitupun kau  bomi-ya. Aku akan selalu menjaga Babo Castile ini, karena disinilah kita bisa merasakan jatuh cinta.”
“hem ne. pulanglah baro-ya! Temuilah hyeri peluklah dia dan katakana bahwa kau sangat mencintainya.” Bomi mengusap air matanya dan meninggalkan baro.
“bomi-ya!” baro berteriak. “ Saranghae”
Bomi hanya membalas dengan senyuman dan menengok ke arah baro,
“nado saranghae baro-ya” kata bomi lirih sambil berjalan meninggalkan baro.
***
Hari ini hari pertunangan baro dan hyeri, bomi melihat betapa sibuknya orang-orang yang ada dirumah baro. Acaranya akan diadakan nanti malam.
“baro-ya selamat.” Bomi tersenyum miris dan matanya sudah berkaca-kaca. Baro yang keluar dari rumahnya bersama hyeri melihat keberadaan bomi,
“oppa, gwaenchanayo?” hyeri melihat kearah kamar bomi.
“oh ne.”
“kajja oppa.” Hyeri menggandeng baro.
***
Malam harinya bomi bersiap datang keacara pertunangan baro, di depan bomi melihat baro dan hyeri sudah di rias dan baro terlihat begitu tampan,
Baro-ya aku yakin ini keputusan yang tepat.
Baro mencari cari keberadaan bomi,
Bomi-ya apa kau tak ingin  datang melihat ini. Baro merasa khawatir.
“oppa, apa kau mencari bomi?” Tanya hyeri tiba-tiba.
“ah ne, aku mencarinya,”
“jangan khawatir aku yakin bomi pasti akan datang. Nah lihatlah itu oppa, itu bomi sudah ada disana.”
Hyeri menunjuk kearah bomi, baro hanya tersenyum tipis, dan kini pandangannya hanya tertuju pada bomi,
Acara tukar cincin pun sudah dimulai, tiba tiba disaat hyeri akan memasukan cincinnya kejari baro geraknya terhenti, sesekali ia melihat kearah bomi dan baro.
“waeyo sayang?” Tanya eomma baro, semua tamu terheran atas tindakan hyeri.
“ha! Apa yang yeoja itu lakukan?” Tanya salah seorang tamu undangan.
Hyeri jalan menuju dimana bomi berdiri, semua orang terkejut karena tindakan hyeri ini, kedua orang tua hyeri dan baro bingung. Apa yang di lakukan oleh hyeri pada yeoja itu? Pertanyaan itu kini terbesit didalam hati masing masing tamu.
“bomi-ya!” hyeri memulai pembicaraan matanya mulai berkaca-kaca. “aku akan memberikan cincin ini untukmu, sekarang masukanlah cincin ini ke jari oppa.” Hyeri menyerahkan cincinya ke bomi, bomi bingung dengan maksud hyeri, baro hanya terdiam melihat yeoja yang sangat dia cintai dan yeoja yang akan menjadi calon istrinya nanti.
“apa maksud mu hyeri-ah?”
“kumohon masukanlah, jangan kau menyimpan perasaanmu pada oppa lebih dalam,”
“tapi ini acaramu, aku tak mau melakukannya.”
“tenanglah bomi-ya aku sudah tau semua,”
“bagaimana kau bisa tau?” kata bomi penasaran.
“kemarin, Saat aku membereskan kamar oppa, aku melihat foto oppa bersama mu, dan awalnya aku anggap kalian hanya sahabat yang saling menyanyangi, dan kalian tak mempunyai perasaan satu sama lain, tapi disaat aku membuka bagian belakang salah satu foto itu, aku melihat puisi yang oppa tulis dan itu untukmu.
Dear my lovely friend Bomi.
Dalam gelapnya malam aku mencoba mencarimu, apa kau tau aku terjebak oleh gumpalan awan hitam yang mencoba membawaku jauh darimu.
Dalam gelapnya malam yang dihiasi beribu bintang, aku mencoba melihatmu namun tak kutemukan sosok dirimu,
Benarkah kau meninggalkanku? Dan meninggalkan cintamu dalam hatiku?
Aku hanya ingin mempersembahkan cintaku padamu,
Tahukah engkau? Aku sangat kehilanganmu,
Kehilangan sosok seorang sahabat sekaligus pengisi hatiku,
Aku memang salah karena aku baru menyadarinya jika aku mencintaimu,
Meskipun aku sudah bersama yeoja lain,
Aku ingin kau mengetahui satu hal saja,
Bahwa aku tak bisa membuang rasa cintaku ini sampai kapanpun.
Saranghae bomi-ya Jeongmal saranghae.
“ sekarang kau tak perlu lagi bohong pada perasaanmu sendiri, aku tau ini sangat menyakitkan, tapi untuk  apa aku bersama dengan seorang namja yang sama sekali tak mencintaiku, tapi ia mencintai orang lain”
Hyeri meneteskan air matanya, dan baro berjalan mnuju mereka berdua, dilihatnya wajah baro lekat lekat oleh bomi.
“tapi hyeri-ah!”  kata bomi bingung, dan kini bomi yang menegeluarkan airmatanya, hyeri memeluk bomi.
“aku percaya padamu bomi-ya. Hanya kau atu-satunya yeoja yang bisa membuat oppa bahagia, dan oppa hanya mencintai kau bomi-ya.”
Bomi menangis dalam pelukan hyeri, begitupun hyeri,
“aku tak percaya kau akan melakukan hal ini hyeri-ah. Aku piker kau akan marah dan menghukumku.”
“iya aku akan menghukum mu dengan cara bahagiakan oppa bomi-ya! Jika kau melukai hatinya aku akan bersumpah untuk menjadikan oppa suamiku.”
Baro tersenyum melihat semua ini,
“aku janji hyeri-ah , aku akan menjaga oppa mu ini.” Hyeri menghapus air mata bomi.
“ne.. aku percaya padamu.”
Semua orang takjub melihat kejaian ini, Eomma baro meneteskan airmata dan kini diinya merasa bersalah.
“mianhaeto sayangku, selama ini eomma tak mengerti perasaanmu, eomma terus memaksamu untung bertunangan dengan hyeri-ah, tapi sekarang hyeri-ah yang melepaskanmu dan membiarkanmu bersama bomi yeoja yang selama ini menjadi sahabatmu sekaligus yeoja yang telah membuatmu jatuh inta.” Eomma menangis dalam pelukan baro.
“ne Eomma, aku mengerti perasaan eomma, aku juga minta maaf sama eomma, jika selama ini aku tak mengatakan pada eomma bahwa aku mencintai bomi.” Baro memeluk erat Eommanya, setelah itu baro mengajak bomi kedepan untuk menyelesaikan acara ini, hyeri tersenyum lega melihat barp dan bomi bahagia.
Aku yakin oppa bersama bomi kau akan merasakan cinta yang sesungguhnya, dan aku aku hanya yeodongsaengmu oppa.
Acarapun teus dilanjutkan. Bomi memasukan cincin itu kejari baro begitupun sebaliknya baro memasukan cincin kejari bomi, mereka tersenyum dan melihat kearah hyeri, hyeri membalas senyuman mereka dan memberikan jempol pada baro dan bomi,
Baro memeluk bomi dengan erat
Aku percaya bahwa kau dan aku ditakdirkan untuk bersama, karena aku yakin kau adalah pasangan hidupku
 Terimakasih tuhan kini aku bisa memiliki  seutuhya namja yang aku cintai, gomawo hyeri-ah aku akan selalu mengingatmu dan aku berharap kau akan menemukan namja yang lebih baik dari baro, dankdia mencintaimu apa adanya.
bomi-ya apa besok kau ada jadwal?”
“aish kau ini. Besok aku mesih harus kuliah.”
“geureh besoka akan kuantar kau menggunakan sepeda yang telah kuhias sendiri,”
“maksudmu.”
“sudahlah diam besok kau akan tau.”
Baro tersenyum kearah bomi, dan kedua orang tua baro baru sadar jika cinta itu memang tak bisa di paksakan.
***
Kring..kring,..kring… suara bel sepeda baro,
“bomi-ya! Palli nanti kita terlambat.”
“aduh aduh, baro mengapa kamu menggunakan sepeda yang penuh dengan hiasan ini?” Tanya Eomma bomi heran melihat baro.
“ah, ahjuma, lihatlah nanti aku akan membawa bomi jalan jalan mengelilingi kota seoul menggunakan sepeda ini.”
“mwo? Menggunakan sepeda kau ini ada-ada saja.” Eomma bomi masuk kedalam rumah.
“Eomma aku berangkat ya,”
“kau tak sarapan dulu?”
“tak usah aku sudah memakan satu buah roti.”
“cepatlah baro sudah menunggumu didepan, dia sangat tampan.” Eomma bomi mencoba menggoda.
“aish eomma ini ada ada saja. Geure akuberangkat eomma dah.” Bomi melambaikan tangannya.
Saat bomi keluar bomi terkejut melihat dandanan baro dan sepeda miliknaya.
“aigooo!!!!! Baro-ya apa yang kau lakukan?”

“silahkan my princes pangeran sudah menggumu dari tadi.”

hahah geureh geureh pangeranku, aku akn menauki sepeda mu yang konyol ini.”
Baro mengulurkan tanganya dan menuntun bomi menaiki sepeda miliknya.
“apa kau siap tuan putri??” Tanya baro semangat.
“ayooooooo!!!!!!”
Akhirnya kini aku mengerti bahwa cinta itu tak
END